Kebumian

Ayat-ayat Bumi

Dan Kami jadikan di atas bumi gunung-gunung, supaya bumi tidak bergoyang bersama mereka, dan Kami jadikan lorong-lorong lebar di antaranya, supaya mereka mendapat petunjuk.

(Surat al-Anbiyaa’ : 31)

Dia menciptakan langit tanpa tiang yang dapat kau lihat; Dia memancangkan di atas bumi gunung-gunung supaya tidak menggoyangkan kamu; dan Dia menebarkan di dalamnya binatang-binatang dari segala jenis.

(Surat Luqman : 10)

Dan gununggunung dipancangkan-Nya dengan teguh

(An-Naazi’aat : 32)

dan gununggunung sebagai pasak?

(An-Naba’ : 7)

Kita kan sudah belajar bahwa lempeng-lempeng bumi bergerak, salah satu pergerakannya menghasilkan subduksi. Subduksi yang terjadi antara 2 lempeng dapat menghasilkan gunung-gunung api yang menyebar sepanjang zona sunduksi. Gunung ini ibarat paku yang mengaitkan 2 kayu yaitu 2 lempeng yang bertemu, gunung berperan besar dalam menahan tergelincirnya lempeng yang menujam, sehingga gempa yang terjadi tidak terlalu besar jika terjadi pergerakan. Subhanallah…

Subduksi lempeng yang menghasilkan gunung api

——————————————————————————————————————–

Pada hari bumi dan gununggunung bergoncangan, dan menjadilahgununggunung itu tumpukan-tumpukan pasir yang berterbangan.

(Al Muzzammil : 14)

dan gununggunung menjadi seperti bulu (yang berterbangan)

(Al-Ma’aarij : 70)

dan gununggunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan

(Al-Qaari’ah : 5)

dan apabila gununggunung telah dihancurkan menjadi debu

(Al-Mursaalat : 77)

Setelah membaca ayat diatas, timbul pertanyaan dibenak kita, apa bisa gunung yang sekokoh itu bisa terbang berhamburan bagaikan bulu-bulu? ternyata faktanya bisa dan benar apa yang telah difirmankan Allah kepada kita. Gunung berapi terbentuk karena adanya desakan magma dari dalam bumi dan dibagun atas batuan-batuan hasil dari akumulasi material yang keluar dari dalam bumi sehingga bisa menjadi gundukan batu yang sangat besar. Desakan makma dari dalam bumi akan terus terjadi dan terus terakumulasi, sehingga pada saat kemampuan menahan gaya desakan itu sudah melewati batas maka akan terjadi letusan. Letusan-letusan gunung api yang sering kita jumpai yaitu letusan-letusan kecil, dimana gunung hanya mengeluarkan material-material vulkanik dan magma. Akan tetapi, jika akumulasi gaya desakan magma sudah terlalu besar maka dapat menimbulkan letusan besar yang berdampak pada terangkatnya  seluruh badan gunung dan menghancurkannya menjadi batu-batu kecil dan debu, inilah yang diibaratkan sebagai bulu-bulu yang bertebangan.

Proses Letusan Gunung Api

Contoh gunung Tambora di Sumbawa, letusan Gunung Tambora yang terjadi pada tahun 1815 merupakan yang terdahsyat didunia dan menewaskan 92.000 orang. Sebagian badan gunung terangkat dan menyebabkan perubahan iklim dunia sampai satu tahun berikutnya (1816) sering disebut sebagai tahun tanpa musim panas dan terjadi perubahan drastis dari cuaca Amerika utara dan Eropa karena debu yang dihasilkan dari letusan Tambora ini.

Letusan Gunung Tambora

——————————————————————————————————————–

dan Kami jadikan padanya gununggunung yang tinggi, dan Kami beri minum kamu dengan air tawar?

(Al-Mursalat : 27)

Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gununggunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.

(An-Nuur : 43)

Ilmu tentang siklus hidrologi sudah ada sejak zaman Rasulluah, seperti yang telah dijelaskan oleh ayat diatas. Dari ayat ini kita bisa mempelajari tahapan-tahapan dalam siklus hidrologi.

1. Air laut menguap menjadi uap gas karena panas matahari
2. Uap air mengalami sublimasi
3. Pembentukan awan yang mengandung kristal es
4. Awan bergerak oleh tiupan angin ke darat
5. Pembentukan awan
6. Turun salju
7. Pembentukan gletser
8. Gletser mencair membentuk aliran sungai
9. Air mengalir di sungai menuju darat dan kemudian ke laut

Siklus Hidrologi

——————————————————————————————————————–

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah kapal-kapal di tengah (yang berlayar) di laut seperti gununggunung

(Asy-Syuura : 32)

Dan kamu lihat gununggunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

(An-Naml : 88)

dan gunung benar-benar berjalan

(Ath-Yhuur : 10)

Siapa bilang gunung itu diam? salah besar jika dikatakan bahwa gunung itu diam, gunung akan selalu bergerak seiring dengan pergerakan lempeng bumi. Pergerakan gunung tampak jelas pada jalur hotspot pada daerah hawaii, gunung terbentuk setiap saat secara periodik, karena adanya pergerakan lempeng, gunung yang seharusnya ada di satu titik harus bergeser, dan di titik yang sama akan muncul gunung baru lagi.

Jajaran gunung hotspot Hawaii

——————————————————————————————————————–

Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka

(Al-A’raaf :78)

Gempa tidak berbahaya!! adakah dari anda yang percaya itu? jika hanya gempa yang terjadi sebenarnya tidak akan mencelakakan kita, tetapi karena kita beraktifitas dalam lingkungan yang sudah mempunyai banyak infrastruktur dan fasilitas seperti gedung, jembatan, jalan layang dan lain-lain, inilah yang membahayakan kita ketika terjadi gempa. Jika terjadi gempa posisi kita sedang di tanah lapang maka hanya guncangan yang kita rasakan. Akan tetapi, ketika posisi kita berada dalam gedung atau jembatan, maka gempa dapat mencelakakn kita melalui runtuhan gedung atau jembatan tersebut. Ayat inilah yang mengingatkan kita melalui potongan kalimatnya yaitu “mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka”

Gempa

——————————————————————————————————————–

Dinamika Bumi

Tahukah anda bahwa permukaan bumi itu itu bergerak ?

Bumi terdiri dari lapisan-lapisan, mulai dari kerak, mantel (atas dan bawah) dan inti (luar dan dalam). Dari lapisan tersebut ada yang dinamakan litosfer (lapisan kerak dan mantel bagian atas) yang dapat kita sebut juga dengan lempeng litosfer. Lempeng ini bersifat brittle atau mudah rapuh dancenderung pecah, jadi bumi bagian atas terdiri dari lempeng-lempeng yang terpecah-pecah. Antara lempeng satu dengan yang lain saling bergerak, adapun yang mengakomodasi pergerakan lempeng yaitu adanya konveksi pada bagian mentel dan gaya-gaya yang bekerja pada lempeng (ridge push, slab pull dan trench section). Coba kita bayangkan, jika pecahan lempeng itu bergerak pasti akan terjadi tumbrukkan antar lempeng, ada juga yang saling menjauh dan ada juga yang saling berpapasan, bahasa kerennya divergen (lempeng saling menjauh), konvergen (lempeng saling bertumbrukan) dan transform (lempeng saling berpapasan). Pada awalnya bumi dianggap statis (tidak bergerak) tetapi sejak adanya hipotesis dari seorang ahli meteorologi dan geofisika Jerman, Alferd Wegener yang menyatakan bahwa continental mempunyai kemempuan untuk bergerak (continental drift ), pernyataan ini disertai bukti-bukti bahwa temuan lokasi fosil yang saling terhubung antar benua dan kesamaan batuan sedimen antar beberapa benua, hal ini mengisyaratkan bahwa sebenarnya dahulu benua adalah satu yang disebut dengan pangea. Tetapi pada saat itu belum ada bukti ilmiah yang dapat menjelaskan mengenai mekanisme yang menggerakan continen. Sampai 30 tahun para ilmuan berdebat menegenai mekanisme continental drift ini, kemudian pada tahun 1960 ditemukan pegunungan di bawah laut dan pola alternating magnetik batuan pada permukaan lantai samudra, dari penemuan ini mulai ada pencerahan dalam menjelaskan mekanisme continental drift.

Begitu sobat, kita di bumi ini sebenarnya ibarat menaiki perahu yang mengapung tapi berjalan sangat lambat sekali lebih lambat dari jalannya kura-kura. Pingin tahu rincian jelas mengenai kata-kata aneh yang di-bold (cetak tebal)? Mari saya jelaskan satu persatu :

1. Struktur interior bumi

a. Kerak

  • Lapisan tipis, 0.5% dari volume bumi
  • Terbagi menjadi dua: kerak benua (SiAl) dan Kerak samudra (SiMa).
  • Batas kerak dan selubung adalah bidang diskontinuitas Mohorovicic

Macam-macam kerak :

Kerak samudra

  • Mempunyai tebal 8 km,
  • Secara umum terdiri dari BASALT, GABRO
  • Si, Al, K, Ca < dari kerak benua
  • Umur 200 Ma, ditemukan di laut Pacific Barat dan timur kepulauan Mariana

Kerak benua

  • Mempunyai tebal 30 -50 km, dapat sangat tebal dapat mencapai 80 km seperti di bawah pegunungan Himalaya dan sangat tipis dibawah laut membentuk pinggiran benua.
  • Secara umum terdiri dari Granit
  • Si, Al, K, Ca
  • Memproduksi panas radioaktif dari K, U dan Th
  • Umur 1 – 2.5 Ga, tertua 3.9 Ga yang ditemukan di Greenland, Canada dan Australia

b. Selubung/mantel

  • ·83% dari volume bumi
  • ·Membentuk lapisansetebal 2900 km
  • ·Batuan selubung adalah Peridotite yg terdiri dari silikon, oksigen, besi dan magnesiun (Si, O, Fe, Mg)
  • ·Temperature pada bagian bawah 3,800oC dan bagian atas 800oC.

c. Inti

  • 16% dari volume bumi
  • Terbagi dua menjadi inti padat dan inti cair
  • Mempunyai komposisi logam Besi dan Nikel seperti pada meteor
  • Temperatur dipusat inti bumi: 4200oC
  • Sifat kemagnetan bumi terjadi mungkin dikarenakan fluida pada inti luar berputar dengan kecepatan yang berbeda dengan inti padat

Litosfer dan Astenosfer

  • Litosfer bersifat brittle (getas).
  • Ketebalan litosfer berkisar dari 50 – 125 Km (rata – rata 75 Km, Gambar 3).
  • Astenosfer (lapisan lunak mantel bagian atas) memiliki temperatur tinggi (1400o C) dan dapat mengalir (strong flowage).
  • Dari litosfer ke astenosfer temperature berangsur meningkat.
  • Litosfer yang rigid dan brittle dapat bergerak melalui astenosfer yang lunak dan plastis.

2. Fakor penggerak lempeng

a) Konveksi magma :

b) Gaya-gaya yang bekerja pada lempeng :

Slab pull

Ridge push

Trench suction

3. Interaksi batas lempeng

a) Divergen : Pergerakan antar lempeng saliang menjauh

b) Konvergen : Pergerakan antar lempeng bertubrukan

– Subduksi : Salah satu lempeng menyusup kebawah terhadap lempemng yang lain

– Collision : Kedua lempeng bertubrukan secara frontal

– Obduksi : Salah satu lempeng menjulang keatas terhadap lempeng yang lain

c) Transform : Pergerakan antar lempeng yang sejajar (berpapasan)

4. Pemekaran lantai samudra (Sea floor spreading)

Sea floor spreading terjadi pada batas lempeng divergen, di mana lempeng-lempeng bergerak saling menjauh, mengakibatkan material di bawah naik ke atas membentuk lantai samudera baru. Bentuk lantai samudera antara lain : lantai abbisal, gunung laut, punggungan samudera (ocean ridge), palung laut. Sea floor spreading terjadi pada mid ocean ridge (punggungan tengah samudera). Punggungan samudera merupakan tonjolan yang terdiri dari batuan di atas lantai samudera. Memiliki panjang puluhan ribu kilometer dengan lebar ratusan kilometer serta berdiri setinggi 0.6 km atau lebih. mid ocean ridge tersebar di berbagai tempat di muka bumi.

Tahun 1950an: eksplorasi mengenai lantai samudera dilakukan secara ekstensif untuk meningkatkan pemahaman tentang adanya deretan pegunungan di dasar laut atau punggungan tengah samudera (mid-oceanic ridge / MOR).

Nah, cukup segitu saja yang dapat saya sampaikan, mudah-mudahan dapat bermanfaat. Artikel ini merupakan rangkuman dari perjalanan saya mengikuti mata kuliah tektonofisik (dosen: pak Benyamin Sapiie, Ph.d) dan geodinamik (dosen: pak Dr. Nanang T. Puspito) terima kasih pak atas ilmunya dan terima kasih juga kepada pembaca, jika ada pertanyaan, saran atau kritik dapat disampaikan lewat comment. Wassalam…

——————————————————————————————————————–

Geologi Karang Sambung

Kondisi regional daerah Karangsambung (karsam)

Daerah Karangsambung memiliki ciri khas geologi yang sangat menarik untuk dipelajari. Pada daerah ini terdapat batuan Pra-tersier dengan jenis batuan yang beragam serta tatanan dan struktur geologi yang sangat kompleks. Kondisi geologi yang kompleks ini terbentuk karena pada daerah karangsambung merupakan zona meratus, yaitu daerah pertemuan antara lempeng  (subduksi) yang terangkat. Lempeng yang saling bertabrakan tersebut membentuk boudin-boudin lonjong yang membentuk formasi masing-masing dengan jenis batuan yang beragam. Sebelum palung subduksi tersebut terangkat, banyak jenis batuan yang terendapkan dengan batuan dominannya berupa batu lempung. Pada daerah ini juga ditemukan batuan yang berada di laut dalam, karena proses pengangkatan pada zona palung subduksi tersebut.

Geologi Karangsambung mempunyai formasi yang khas jika dibandingkan dengan daerah lain. Hal ini terlihat dari bentuk morfologi yang berbentuk lonjong-lonjong dan berbukit dengan batuan yang berbeda-beda, stratigrafi daerah ini sangat khas dan membentuk formasi yang beragam, struktur geologi pada daerah ini terdiri dari lipatan, sesar dan kekar.

1. Geomorfologi Regional

Di daerah ini dapat dibedakan empat satuan morfologi yaitu pegunungan, perbukitan, dataran alluvial, batuan intrusi atau pegunungan muda.

Morfologi Karang Sambung

sumber google earth

2. Stratigrafi Geologi Regional

Stratigrafi daerah pengamatan Luk Ulo menunjukkan bahwa formasi batuan tertua, sedangkan formasi selengkapnya yaitu

  1. Kompleks Melange Luk Ulo yang berumur Pra Tersier.
  2. Formasi Karangsambung yang terdiri atas Lempung Hitam.
  3. Formasi Totogan dengan batuan utamanya lempung bersisik.
  4. Formasi Waturanda yang terdiri atas perlapisan batu pasir dan batuan breksi.
  5. Formasi Panosogan yang terdiri atas perselingan lempung dan pasir karbonat.

Stratigrafi

3. Struktur Geologi Regional

Struktur geologi yang dijumpai adalah lipatan, sesar, dan kekar. Pada umumnya struktur tersebut dijumpai pada batuan yang berumur Kapur hingga Pleosen. Di beberapa tempat struktur lipatan dan sesar tercermin dan tampak jelas pada benuk bentang alamnya seperti yang terdapat di Karang Sambung. Di tempat lain bentuk struktur hanya dapat diketahui dari pola bentuk sebaran batuan atau ditafsirkan dari pengukuran lapisan di lapangan.

Sukendar Asikin (1974) berdasarkan penelitiannya mendapatkan hasil bahwa secara umum sesar-sesar utama di daerah Luk Ulo ini mempunyai arah timur laut- tenggara untuk daerah utara, dan arah utara selatan.

Daerah Luk Ulo

A. Latar belakang

Luk Ulo merupakan formasi tertua berupa melange yang sangat kompleks, berumur Pra Tersier. Batuannya meliputi graywacke, lempung hitam, lava bantal yang beasosiasi dengan rijang dan lempung merah, turbidit klastik, dan ofiolit yang tersisipkan diantara batuan metamorfose berfasies sekis. Batuan-batuan tersebut merupakan hasil dari pencampuran secara tektonik pada jalur penunjaman (subduction zone), yang juga telah melibatkan batuan-batuan asal kerak samudra dan kerak benua. Kompleks ini dibagi menjadi 2 satuan berdasarkan dominasi fragmen pada masa dasarnya, yaitu satuan Jatisamit di sebelah Barat dan satuan Seboro di sebelah Utara.

B. Intrusi Batuan Diabase di gunung Parang

Gunung Parang merupakan daerah penelitian dengan menggunakan metode gayaberat dan magnetik, guna mengamati bagaimana bentuk intrusi gunung Parang dibawah permukaan. Secara geologi, gunung Parang merupakan intrusi batuan beku diabas. Berwarna abu–abu terang, fanerik, masif, terdapat banyak mineral plagioklas dengan tekstur mineral konsentris. Terdapat struktur kekar kolom dengan struktur :  900, N 63° E ;  480, N 74° E;  500, N 65° E;  710, N 68° E, Pengamatan dilakukan di bagian barat gunung parang. Arah kekar tegah lurus dengan bidang pendinginan, sehingga pada gunung Parang dilihat dari arah kekarnya membentuk bidang pendinginan berupa kipas terbalik.

Daerah Seling

A. Latar belakang

Pada daerah Seling khususnya di dusun Sambeng merupakan suatu wilayah yang pernah mengalami longsoran tanah. Daerah ini didominasi satuan batuan napal lempungan dan breksi yang mengandung air, dimana bagian bawah permukaan daerah ini adalah batuan kompak yang tidak dapat menyerap air, sehingga kemungkinan terbentuk bidang lincir pada batas batuan tersebut yang mempengaruhi arah longsoran tanah pada daerah tersebut.

B. Geologi Daerah Seling

Satuan batuan utama pada daerah ini adalah satuan batuan breksi dan Satuan batuan Napal Lempungan. Kedua satuan batuan ini dilewati oleh zona longsoran, dapat dikatakan zona longsoran memotong kedua satuan batuan ini. Longsoran pada daerah ini merupakan longsoran rayapan dimana pergerakan tanah yang terjadi secara perlahan dalam jangka waktu cukup lama.

Seling : tiang listrik yang miring akibat longsoran

——————————————————————————————————————–

Gunung Api

Volkanologi Volkanologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang volkano, lava, magma, dan fenomena geologi dan geofisika yang menyertainya. Kata volkanologi berasal dari bahasa Latin, vulcan, yang merupakan Dewa Api Romawi. Gunung api adalah lubang atau rekahan pada kerak bumi yang mengeluarkan magma dan gas-gas dari dalam bumi. Aktivitas volkanik meliputi keluarnya batuan yang kemudian membentuk pegunungan atau bentuk-bentuk seperti gunung dalam waktu tertentu. Gunung api pada umumnya ditemukan pada daerah-daerah pertemuan lempeng yang berjenis divergen atau konvergen. Pemekaran dasar samudera, contohnya Mid-Atlantic Ridge, merupakan contoh pegunungan yang disebabkan pertemuan lempeng divergen yang saling menjauh. Pegunungan sirkum pasifik merupakan salah satu contoh yang disebabkan oleh pertemuan lempeng konvergen. Gunung api juga bisa disebabkan oleh adanya pemekaran atau penipisan kerak bumi (yang biasa disebut gunung api intraplate non hotspot) seperti African Rift Valley dan Rhine Graben. Gunung api juga bisa disebabkan oleh mantle plumes tau hotspot, seperti yang terjadi di Hawaii, yang kejadiannya jauh dari batas lempeng. Di seluruh dunia saat ini ada ~1500 gunung api, dengan rata-rata jumlah erupsi adalah 50 erupsi yang tercatat tiap tahunnya. Dari 1500 gunung api yang tersebar di seluruh dunia tersebut, terdapat 89 yang dianggap sebagai high risk volcanoes, yaitu 89 gunung api yang sangat aktif. Hampir 50%-nya, yaitu sejumlah 42 gunung api berada di Asia, sedangkan sisanya 40 di Amerika, dan 7 di Eropa.

Komposisi Lava/Magma Komposisi lava yang dimiliki sebuah gunung api sangat menentukan bentuk dari gunung tersebut. Berdasarkan komposisinya, lava dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis:

1. Lava Felsic/Asam Lava yang asam mengandung prosentasi silika yang tinggi yaitu >63%. Lava jenis ini cenderung sangat kental dan dikeluarkan dalam bentuk domes dan dengan aliran yang pelan. Jenis gunung api yang dibentuk oleh lava biasanya berupa stratovolkano atau dome. Karena lava ini sangat kental, maka lava ini cenderung untuk memerangkap gas-gas, yang menyebabkan magma dierupsikan dengan keras/ sangat violent.

2. Lava Intermediet Apabila magma mengandung silika sebanyak 52-63%, maka magma jenis ini disebut magma intermediet atau lava andesitik. Kebanyakan, gunung jenis ini berada di daerah zona subduksi. Contoh gunungnya adalah Gunung Merapi.

3. Lava Mafic Lava mafic merupakan lava yang mengandung komposisi silika 45-52%. Lava jenis ini cenderung kurang kental, yang bergantung pada temperaturnya. Lava ini juga biasanya memiliki temperatur lebih tinggi daripada lava felsik. Lava seperti ini bisa terbentuk pada daerah-daerah: a. Mid oceanic ridge, b. Shield vokano/perisai, baik pada kerak samudera maupun kerak benua, c. Continental flood basalt

Morfologi Gunung Api Lingkungan pembentukan gunung api, menentukan bentuk gunung api tersebut. Berdasarkan morfologinya, gunung api dibagi menjadi:

1. Strato, contohnya gunung Fuji. Bentuk dari gunung ini memiliki slope yang curam. Kebanyakan terbentuk di daerah subduksi.

Gunung Fuji

2. Kaldera, contohnya gunung Crater Lake. Gunung ini sangatlah eksplosif, dan memiliki lava berjenis riolith atau asam.

Carter Lake

3. Kubah Lava, contohnya gunung Saint Helens. Akumulasi lava dengan viskositas tinggi pada lubang kawah

Gunung Saint Helens

4. Perisai (shield volcano), kebanyakan berupa gunung non eksplosif, memiliki lava basalt, dan biasanya di daerah hotspot.

Gunung Mauna Loa

5. Cinder Cone (kerucut), contohnya gunung La Poruna.

Gunung La Poruna

Tipe Erupsi Berdasarkan tipe erupsinya, dibagi menjadi:

1. Tipe Hawaii, umumnya berupa lelehan lava pijar yang muncul secara simultan terjadi pada celah atau kepundan sederhana.

Gunung Mauna Loa

2. Tipe Stromboli, hampir sama dengan Hawaii namun berasal dari magma yang dangkal, aktif di tepi benua atau tengah benua.

Tipe Stromboli

3. Tipe Plinian, merupakan erupsi yang explosive dari magma berviskositas tinggi dan bersifat asam, material yang dihasilkan berupa batu apung dalam jumlah besar.

Gunung Pinatubo

4. Tipe Pelean dan Vulcanian, erupsi magmatis berkomposisi andesit basaltic sampai dasit, umumnya melontarkan bom-bom vulkanik atau bongkahan di sekitar kawah dan sering disertai bom kerak-roti atau permukaannya retak-retak. Material yang dierupsikan tidak melulu berasal dari magma tetapi bercampur dengan batuan samping berupa litik.

Tipe Pelean

5. Tipe Surtseyan dan Tipe Freatoplinian, merupakan erupsi yang terjadi pada pulau gunung api dan berada di bawah permukaan laut.

Tipe Surtseyan

Volcanic Explosivity Index Volcanic Explosivity Index (VEI) disusun oleh Chris Newhall dari USGS dan Stece Self ari Universitas Hawaii pada tahun 1982 untuk memberikan standar pengukuran dari besarnya letusan gunung api. Besar letusan dilihat dari volume produknya, ketinggian awan hasil erupsi, dan observasi kualitatif.

Volcanic Explosivity Index

Bencana Gunung Api Gunung api bisa menyebabkan bencana bagi masyarakat luas. Bencana ini disebabkan oleh produk-produk aktivitas gunung api sebagai berikut: 1. Aliran Piroklastik 2. Lahar 3. Aliran Lava 4. Tefra 5. Gas vulkanik 6. Gempa Bumi 7. Tsunami Bencana gunung api (volcanic hazard) bisa diartikan sebagai proses vulkanik yang berpotensi membahayakan. Resiko gunung api (volcanic risk) merupakan potensi kerugian atau kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh bencana gunung api pada manusia. Badan volkanologi Indonesia membagi/mengklasifikasikan Gunung berapi di Indonesia menjadi 3 tipe utama, yaitu:

Tipe A : Pernah mengalami erupsi magmatik setidaknya 1 kali setelah tahun 1600

Tipe B : Belum mengalami erupsi magmatik setelah tahun 1600 tetapi memiliki gejala gunung api

Tipe C : Tidak diketahui pernah erupsi, tetapi memiliki gejala gunung api Semua bencana alam (natural hazard) yang ditimbulkan oleh aktivitas gunung api ini dapat menimbulkan dampak yang merugikan bagi kehidupan manusia. Bagaimanapun juga, natural hazard ini tidak dapat dihindari atau dihilangkan, tetapi kita dapat mengurangi resiko dari dampak yang ditimbulkan. Oleh karena itu, untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan, perlu dilakukan mitigasi bencana. Di Indonesia, mitigasi bencana secara institusional dilaksanakan oleh DUMBG. Hal-hal yang dilakukan dalam pemitigasian bencana adalah dan tindakan preventif meliputi hal-hal sebagai berikut:

1. Mempelajari sejarah aktivitas

2. Pemetaan dan perkiraan umur produk erupsi

3. Pemantauan gunung api, yang meliputi: a. Kegempaan b. Adanya deformasi tanah c. Adanya Gas d. Perubahan hidrologi e. Pemantauan menggunakan remote sensing

4. Membangun sistem peringatan dini (early warning system)

5. Sosialisasi dan koordinasi dengan pimpinan masyarakat setempat

6. Memperkirakan aliran lava

7. Membuat bendungan

Selain itu, badan mitigasi juga selalu memperingatkan penduduk dengan memberi status aktivitas gunung api, status tersebut memiliki tingkatan yang menunjukkan besar kecilnya kegiatan gunung api.

Tingkatannya adalah sebagai berikut:

Level I (Normal)

Level II (Waspada)

Level III (Siaga)

Level IV (Awas)

Dengan begitu, diharapkan masyarakat menjadi awas terhadap ancaman aktivitas gunung api, dan akhirnya dapat mengurangi hingga seminimal mungkin dampak potensi bencana yang ditimbulkan oleh aktivitas gunung berapi.

Mitigasi bencana gunung api :

1. Memantau kegiatan gunungapi secara menerus.

2. Menyediakan peta geologi, Peta rawasan kawan bencana (KRB), peta zona resiko

3. Sosialisiasi bahaya letusan gunungapi kepada masyarakat

4. Meningkatkan sumberdaya manusia dan pendukungnya

5. Membangun tanggul penahan lahar

6. Hindari tempat-tempat yang memiliki kecenderungan untuk dialiri lava dan atau lahar

7. Perkenalkan struktur bangunan tahan api.

Jenis-jenis mitigasi :

1. Mitigasi Struktural Mitigasi struktural adalah upaya untuk mengurangi kerentanan (vulnerability) terhadap bencana dengan cara rekayasa teknis bangunan tahan bencana.

2. Mitigasi Non-Struktural Mitigasi non-struktural adalah upaya mengurangi dampak bencana selain dari upaya tersebut di atas. Bisa dalam lingkup upaya pembuatan kebijakan seperti pembuatan suatu peraturan. Dirangkum dari tugas vulkanologi dan berbagai sumber

——————————————————————————————————————–

Panas Bumi

Panas bumi yaitu panas didalam bumi yang diakomodasi oleh adanya material panas dengan kedalaman beberapa ribu kilometer di bawah permukaan yang menyebabkan terjadinya aliran panas dari sumber tersebut hingga ke permukaan.

Terjadinya sistem panas bumi

Panas bumi terbentuk sebagai hasil perpindahan panas dari suatu sumber panas ke sekelilingnya yang terjadi secara konduksi ataupun konveksi. Perpindahan panas secara konveksi biasanya melalui media batuan secara konveksi terjadi karena adanya kontak antara air dengan suatu sumber panas.

Sistem Panas Bumi

Sistem Panas Bumi (Goff and Janik, 2000)

  1. Sistem hot dry rock yang memanfaatkan panas yang tersimpandalam batuan berporositas rendah dan tidak permeabel, temperatur sistem ini berkisar antara 120 hingga 225°C dengankedalaman 2 hingga 4 km.
  2. Sistem magma tap yang memanfaatkan panas yang keluar daritubuh magma dangkal, pada sistem ini, magma merupakan bentukpaling murni panas alamiah yang mempunyai temperatur<1200°C.
  3. Sistem yang berasosiasi dengan volkanisme Kuarter dan intrusi magma (young igneous system), sistem ini umumnya mempunyai temperatur <370°C dan kedalaman reservoir <1,5 km.
  4. Sistem yang berhubungan dengan tektonik, yaitu terjadi di lingkungan backarc, daerah crustal extension, zona kolisi dan sepanjang zona sesar, sistem ini yang telah dieksploitasi umumnya mempunyai temperatur reservoir <250°C dan kedalaman >1,5 km.
  5. Sistem (yang dipengaruhi oleh) geopressure ditemukan di cekungan sedimen, kedalaman reservoir sistem ini umumnya 1,5 hingga 3 km dan temperatur reservoir berkisar dari 50 hingga 190°C.

Manifestasi Panas Bumi di Permukaan

1. Tanah hangat (warm ground)

Adanya konduksi panas dari batuan panas ke batuan permukaan

2. Permukaan tanah beruap (steaming ground)

Diperkirakan uap panas yang muncul dari permukaan tanah berasal dari suatu lapisan tipis dekat permukaan yang mengandung air panas yang mempunyai temperatur sama / lebih dari titik didihnya

3. Mata air panas/hangat (hot/warm spring)

Beasal dari aliran air panas dari bawah permukaan melalui rekahan-rekahan

4. Kolam air panas (Hot Pools)

Kumpulan dari air panas yang mengalir melalui rekahan-rekahan batuan di bawah permukaan

5. Telaga air panas (hot lake)

Seperti kolam air panas tetapi luasnya > 100 m2

6. Fumarole

Lubang kecil yang memencarkan uap panas baik uap kering (dry steam) atau uap panas yang masih mengandung air (wet steam)

7. Geyser

Semburan air panas secara intermitent (pada selang waktu tertentu) dengan ketinggian yang beragam

8. Kubangan lumpur panas

Dapat ter jadi karena kondensasi uap panas

9. Silika sinter

Endapan silika di permukaan berwarna keperakan (sisem pans bumi dominasi air)

10. Batuan yang mengalami alterasi

Alterasi terjadi akibat reaksi antara batuan asal dengan fluida panas bumi

Jenis energi dan model panas bumi :

1. Jenis energi yang dihasilkan :

a. energi listrik

PLTP (pembangkit listrik tenaga panas bumi ) istilah ini digunakan untuk energi listrik yang dihasilkan dari uap panas bumi, untuk menghasilkan energi listrik, uap sebelumnya harus dilewatkan suatu sistem pembangkit listrik yang terdiri dari katel uap, separator, turbin dan kondensor.

– Katel uap berfungsi sebagai akumulator uap yang berasal dari production wells

– Separator berfungsi sebagai tabung pemisah antara air dengan uap murni

– Turbin merupakan alat penggerak dimana energi fluida bekerja

– Kondensor untuk menghasilkan tekanan vakum ( tekanan dibawah tekanan atmosfer )

Dari sistem pembangkit listrik ini, energi listrik ini disalurkan ke daerah-daerah.

b.Energi Panas

energi ini digunakan secara langsung untuk :

– pengering hasil bumi ( kopra, teh )

– Perkembangbiakan Aligator

– Pariwisata (Pemandian air panas, mandi sauna, terapi penyakitEksplorasi panas bumi

Dirangkum dari buku “Panas Bumi” oleh Ir. Nenny Miryani Saptadji Ph.d, Teknik Perminyakan ITB

Materi kuliah Geologi Geothermal oleh Rina Herdianita, Teknik Geologi ITB

——————————————————————————————————————–

Dari pemikiran dan berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s