Saya bukanlah orang kaya yang bisa terbang

Akhir-akhir ini ada wacana dari Kementerian Perhubungan untuk menghapus kebiajakan maskapai yang memberikan LCC (Low Cost Carrier). Sederhananya kedepannya bakal tidak ada lagi tiket pesawat murah. Dalam wacana ini Kementerian Perhubungan akan menerapkan harga tiket termurah adalah 40% dari harga tiket termahal pada masing-masing jalur penerbangan. Jadi nantinya kalau harga tiket Bandung – Singapura pakai AirAsia termahalnya di 1 juta, tiket termurahnya jadi Rp. 400 ribu.

Mungkin kebijakan tersebut sah-sah saja untuk ditetapkan oleh sang punya regulasi penerbangan yaitu Kementerian Perhubungan. Akan tetapi, awal penyebab dan alasan yang mendasarinya adalah peristiwa jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 SUB-SIN yang terjadi pada tanggal 28 Desember 2014. Jadilah pesawat AirAsia yang notabene adalah maskapai LCC dihubung-hubungkan bermasalah dengan tingkat keselamatan. Kesimpulan “ngawur” dari pihak Kementerian Perhubungan secara sederhananya menjadi tiket murah = tingkat keselamatan rendah.

Padahal faktanya adalah :

1. Penyebab jatuhnya pesawat QZ8501 belum diketahui pada saat ini, apakah  dari faktor rendahnya safety atau faktor alam atau mungkin ada faktor lain.

2. Pihak AirAsia sudah memberikan klarifikasi bahwa tiket murah yang ditawarkan bukan berasal dari penurunan standar safety.

3. Didunia bisnis pernerbangan sah-sah saja mengadakan LCC dan promo-promo tiket, untuk menarik calon konsumen.

Saran saya, pihak Kementerian Perhubungan tidak perlu mencampuri masalah harga tiket, biarkan harga tiket mengikuti pasar. Cukuplah mereka membuat regulasi-regulasi berkenaan dengan standar safety dan perbaikan-perbaikan menejemen penerbangan yang selama ini saya rasa masih banyak yang kacau, banyak dari maskapai-maskapai asal Indonesia yang tidak diperbolehkan terbang di negara-negara Eropa yang salah satu penyebabnya karena ketidakpastian regulasi penerbangan di Indonesia.

Sebagai konsumen tetap maskapai LCC dan seorang backpacker yang pas-pasan, saya sangat terbantu dengan adanya tiket-tiket murah atau promo, karena itulah saya bisa terbang kemana-mana baik perjalanan domestik maupun internasional. Pengalaman selama ini banyak tiket-tiket murah yang saya dapatkan sepanjang 2010-2014 antara lain yaitu :  Jakarta – Makassar Rp. 90.000 PP, Bandung – Kuala Lumpur Rp. 127.000, Bandung – Singapura Rp. 66.000,  Jakarta – Pekanbaru Rp. 55.000, Padang – Bandung Rp. 55.000 dan Jakarta – Tanjung Pandan Rp. 110.000 PP. Mungkin nantinya kalau kebijakan pembatasan harga minimal tiket pesawat ini diberlalukan, pengalaman diatas tidak akan pernah saya alami lagi dimasa mendatang, karena saya bukanlah orang kaya yang bisa terbang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s