Banyak Jalan Menuju China

Perjalanan kali ini merupakan perjalanan akbar yang kedua, saya katagorikan akbar karena ini perjalanan keluar negeri dengan waktu lebih dari seminggu🙂. Perjalanan akbar yang pertama waktu itu mengambil rute dari Malaysia – Thailand – Kamboja – Vietnam, rute ini sebagian besar menggunakan transportasi darat, belum sempat saya tulis ceritanya diblog ini, sudah terlalu lama dan sedikit lupa hehe. Perjalanan akbar yang sekarang akan saya ceritakan juga tidak kalah dahsyat dari yang pertama dengan rute perjalanan Bandung – Singapura – Malaysia – Hong Kong – China –  Hong Kong – Macau – Filipina – Malaysia – Bandung. Ini dia peta perjalanan yang ditempuh :

Peta Perjalanan

Peta Perjalanan

10 Juni 2014

Pagi hari saat mentari masih belum terlihat di tanah Parahyangan Bandung, kami bertiga : Saya, Iman dan Fadil bersiap-siap menuju Bandara Husein. Perjalanan panjang menanti kami untuk beberapa minggu kedepan. Mungkin tidak perlu saya jelaskan lagi bagaimana saya bisa jalan-jalan keluar negeri, soalnya itu sudah pasti karena dapat tiket murah meriah dari AirAsia.

Dimulai dengan rute BDO-SIN alias Bandung – Singapura, kami terbang dengan modal harga tiket Rp. 376.000. Yah, gak terlalu murah sih, tapi paling enggak dulu udah pernah ngrasain BDO-SIN Rp. 66.000. Sampai Changi sekitar pukul 10 pagi waktu setempat, kami putuskan untuk wisata bandara saja, tujuan kami di Singapura sekedar lewat. Bandara Changi sudah cukup memuaskan untuk berwisata gratis sambil menghabiskan waktu, karena dari pagi kami belum sarapan maka dibukalah bekal makanan yang udah kami bawa dari Bandung. Sebungkus nasi kuning Rp. 6.000 kita santap dengan santainya di salah satu koridor tunggu penumpang.

Sarapan 6.000 perak di Changi

Sarapan 6.000 perak di Changi

Itu dia namanya Iman yang lagi main HP sama Fadil yang sedang enak sarapan nasi kuning. Oya, wisata apa saja yang kami kunjungi di Bandara Changi ini dia dokumentasinya.

WIsata Changi

WIsata Changi

Sebenernya masih banyak lagi spot-spot wisata dan hiburan di Changi, cuma beberapa saja yang kami kunjungi, ada Cactus Garden, Sunflower Garden, Social Tree, Butterfly Garden dan buat bersantai melapas lelah ada tempat duduk pijat.

Sekitar pukul 3 sore kami putuskan untuk menjelajah wisata kota wajib Singapura. Karena salah satu teman saya ada yang baru pertama kali ke Singapura, cabutlah kami ke Marina Bay mengunjungi patung Merlion dilanjutkan jalan kaki ke Garden by The Bay. Lumayan jauh ternyata, jalan kaki sambil ditemani es potong khas Marina Bay yang sekarang sudah naik jadi 1,5 SGD yang dulunya 1 SGD haha. Kami berjalan melewati youth olimpic park dan sampailah ke Garden by The Bay.

Wisata Kota SIN

Wisata Kota SIN

Dari Marina Bay kami menuju Bugis buat naik bis ke Terminal Larkin di Malaysia. Oya, sebelumnya ada cerita menarik, teman saya membeli air putih kemasan botol 600ml yang setara dengan Rp. 18.000 di sebuah mini market, mahal gile hidup di Singapura. Kalau saya sendiri sudah siap-siap botol minum 1 liter yang udah diisi full sebelum keluar Changi hehe, pantes nih jadi kota dengan biaya hidup termahal. Wah…. sampai di Bugis, antrian yang mau naik bis panjang banget, ternyata kalau disore hari banyak orang-orang Malaysia yang mencari nafkah di Singapura pulang jam segitu. Dengan sabar kami menunggu dan akhirnya dapat juga bisnya setelah matahari tampak sudah memerah. Di imigrasi Malaysia, kami lewati dengan cepat tapi lagi-lagi antrian buat bis selanjutnya panjang banget antriannya, nguler sampai puluhan meter😦. Sistem busnya one trip jadi kami tidak perlu bayar lagi walupun yang dinaiki berbeda dengan bis yang pertama, asal bisa menunjukan tiket dan pastinya asal masih 1 perusahaan.

Sampai Terminal Larkin – Johor Bahru, kami makan malam dulu setelah itu cari tiket untuk ke Terminal Bersepadu Selatan (TBS) di Kuala Lumpur. Karena sudah tengah malam, bis yang kita naiki seadanya saja yang penting bisa sampai TBS. Lima jam perjalanan kami habiskan untuk melepas lelah, tidur…

11 Juni 2014

Sampai TBS kami lanjutkan membeli tiket untuk ke Bandara KLIA2. Tak menunggu lama bis kami datang dan pagi hari sampailah Kami di Bandara KLIA2. Dengan tujuan KUL-HKG alias Kuala Lumpur –  Hong Kong, jadwal penerbangan kami berbeda, Saya sama Fadil terbang duluan dan Iman terbang 2 jam berikutnya.

Foto dulu di KLIA2

Foto dulu di KLIA2

Dengan tiket Rp. 650.000 KUL-HKG kami tempuh sekitar 4 jam, sampai di Hong Kong (HK) kami menuju penginapan di Kowloon, oya sebelumnya pas di bandara kami membeli kartu Octopus buat alat pembayaran angkutan umum dan belanja selama di HK. Penginapan kami di Chungking Mansions jalan Tsim Sha Tsui ini kecil banget ruangannya maklum harganya juga murah untuk ukuran penginapan di pusat Kowloon Rp. 300.000 / malam untuk 3 orang. HK dibagi beberapa pulau besar yaitu Kowloon, Hong Kong, Lantau dan New Territories. Disinilah kami sekarang di Pulau Kowloon, sesampainya kami di penginapan baiknya kita mandi dan melepas lelah terlebih dahulu. Sore hingga malam kami habiskan untuk jalan-jalan di sekitaran Avenue of Stars yang ada nama-nama seniman filem HK di pendestriannya dan menyasikan Symphony of Lights. Hari inipun berakhir🙂

Avenue of Stars dan Symphony of Lights

Avenue of Stars dan Symphony of Lights

12 Juni 2014

Pagi hari sebelum keluar jalan-jalan, mandi dulu biar segar, rencana kami adalah menuju The Peak yang jadi destinasi wajib di HK. Keluar penginapan kami sempatkan jalan-jalan di sekitar Avenue of Stars disana ada HK Museum of Art tapi sayangnya hari kamis tutup, pas banget. Ada juga HK Space Museum yang baru buka jam 1 siang, info aja kalau di Space Museum hari rabu gratis tapi kalau ada pertunjukan atau pas hari libur bayar. Selain dua museum itu ada juga Cultural Centre, Clock Tower, +1881 Heritage (bangunan tua tapi sudah jadi gedung komersil).

Sekitaran Avenue of Stars

Sekitaran Avenue of Stars

Setelah puas kami lanjutkan menuju Star Ferry Pier pas di depan Clock Tower, naik kapal ke Wan Chai Ferry Pier di Pulau Hong Kong cuma 2 HKD lho nyebrang laut. Sampai di Wan Chai kami sempatkan membeli kartu pos dan dilanjutkan ke HK Exhibition Centre yang ada tugu Golden Bauhinia. Setelah puas dilanjut ke Islamic Centre jalan kaki saja biar hemat, sepanjang jalan beli minuman sachet coklat buat persediaan minuman hangat di penginapan. Islamic Centre ini berupa gedung bertingkat dan salah satu lantainya adalah restoran halal, makan siang (38,5 HKD) dulu baru sholat.

Sekitaran Wan Chai

Sekitaran Wan Chai

Perjalanan kami lanjutkan setelah kenyang perut dan batin sehabis di Islamic Centre. Tujuannya ke Stasiun Sentral HK, pakai tram (2,3 HKD), di Sentral ada banyak bus dan angkutan lian yang salah satunya melayani jurusan The Peak. Bis ke The Peak 9,8 HKD untuk perjalanan sekitar 1 jam.

Di The Peak kami mengunjungi Madame Tussaud, tetapi gak masuk, mahal buat backpacker pas-pasan seperti saya haha. Ada kantor pos, sekalian kirim kartu pos dulu buat kenang-kenangan, Peak Gallery, Peak Tower dan ada Observation Deck buat liat Victoria Harbour dari atas. Disana ada juga super market, demi menghemat pengeluaran makan, kami beli mie cup 1 lusin (@2 HKD) untuk persediaan makanan. Sekitar pukul 7 malam kami menyaksikan lagi Symphony of Light, tapi kali ini dari The Peak🙂. Indah banget suasana malam disini, puas banget…

The Peak

The Peak

Tak terasa sudah pukul 20.30 kami bergegas pulang, karena bis umum yang melayani perjalanan ke Stasiun Sentral akan segera habis (saya lupa sampai pukul berapa bis ini beroperasi, yang pasti tidak melayani sampai tengah malam). Dari Stasiun Sentral kami putuskan untuk langsung ke Tsim Sha Tsui menaiki metro (kereta bawah tanah) cukup mahal 9HKD, maklum nyebrang laut (Pulau Hongkong – Kowloon) dan yang pasti cepat. Sampai juga di Tsim Sha Tsui, jalan kaki ke penginapan, istirahat, mandi, menikmati kopi dan mie cup sambil menulis kisah perjalanan tadi.

13 Juni 2014

05.00 Bangun pagi, sholat subuh dan nonton piala dunia Brazil vs Kroasia (3-1) selesai nonton tidur lagi. Bangun untuk kedua kalinya, makan mie cup lagi sambil online mencari info tentang Shenzhen, China. Jadi hari ini kami rencanakan untuk ke Shenzhen menemui orang tua teman kami Fadil dan jelas sekalian wisata jalan-jalan ke negara dengan populasi terbanyak yaitu China. Check out penginapan sekitar pukul 11.00, ganti mata uang HKD ke RMB dan USD ke RMB secukupnya. Rencana selama perjalanan sudah saya buat sebelum menuju Shenzhen. Perjalanan dimulai dengan menaiki metro dari East Tsim Sha Tsui berhenti ke Sha Tin, jalan kaki menuju HK Heritage Museum and Exhabition, kebetulan ada pameran Ghibli sebuah studio filem animasi Jepang. Sayang sekali harus bayar, hanya Fadil aja yang masuk karena emang fans filem animasi Jepang, saya sama Iman jalan-jalan menikmati museumnya saja. Sekitar 1,5 jam disana, perjalanan dilanjutkan dari Sha Tin menuju Fanling mengunjungi Fung Ying Seen Koon Tample.

HK Heritage Museum

HK Heritage Museum

Selesai berkeliling, lanjut lagi ke Stasiun Fanling menuju Stasiun Luohu di Shenzhen, China. Tak terprediksi pulsa Octopus saya sudah gak cukup buat metro Fanling – Luohu (22,6 HKD), akhirnya saya terpaksa melakukan refound kartu Octopus dan dapat 56HKD. Bayar tiket cash lebih mahal dibanding dengan sistem kartu. Sampai di Stasiun Luohu kami mengurus visa (visa on arrival) khusus buat masuk Shenzen saja, bayar 168RMB. Visa didapat, sempatkan buat istirahat sekedar makan es sambil menunggu Heri saudara sepupu Fadil yang sudah janjian sebelumnya.

Bertemulah kami dengan Heri yang nantinya akan menemani perjalanan kami selama di China. Dengan menaiki metro, pergilah kami berempat menuju kantor bapaknya Fadil di Shenzhen Press Tower. Bertemu sebentar dan langsung diantar ke hotel dengan mobilnya, check in, istirahat, sholat dan pergi makan malam. Sebelumnya saya sama Iman dikasih angpau hehe, lumayan buat kebutuhan selama di China sama satu lagi, kami juga dibawakan buah leci, pertama kali saya makan leci langsung jatuh cinta, manis segar, hatur nuhun saya ucapkan buat bapaknya Fadil.

Makan di sebuah restoran muslim, sambil ngobrol dan merencanakan perjalanan selama di Shenzhen. Diputuskan besok keliling kota Shenzhen dan lusanya ke Guangzhou, walupun sebenarnya visa kami cuma sampai Shenzhen, tapi katanya tidak masalah kalau keluar gak sampai menginap. Kenyang makan, beli tiket kereta ekspress buat besok lusa ke Guangzhou. Di perjalanan pulang ke hotel kami diajak berkeliling kota, melihat suasana malam Shenzhen. Kalau saya deskripsikan kota ini termasuk kota yang terencana dengan baik waktu pembangunannya, terbukti dari poros-poros jalan yang lebar, tertatanya antara gedung-gedung komersil dan pemukiman, taman kota yang rimbun dan rapi dengan sarana jogingnya, tortoar buat pejalan kaki yang lebar dll. Kota ini juga lebih murah dari Jakarta, untuk makan dan hotelnya. Hotel kami saja buat bertiga sekitar Rp. 300.000 / malam  dengan ruangan yang besar dan fasilitas lumayan. Jauh sekali dengan penginapan kami di HK dengan harga yang sama, nama hotelnya Hao Jiang Chun.

Hari pertama di Shenzhen

Hari pertama di Shenzhen

Sampai di Hotel kami ngobrol hingga larut malam sambil ditemani China Tea dan buah leci membahas masalah makna dan hakikat kehidupan berikut dengan lika-likunya. Selamat malam…

14 Juni 2014

Hari ini adalah hari bahagia buat sahabat saya, Maman yang akan mengucapkan janji suci untuk melanjutkan kehidupan bersama dengan wanita pilihannya, Krisha. Sayang sekali karena perjalanan ini saya tidak bisa hadir dipernikahannya, cuma bisa kirim foto via facebook, menggunakan cara klasik yang sudah saya persiapkan sebelum berangkat, sebuah foto dengan memegang poster ucapan selamat waktu di HK saya upload sebagai ganti ketidakhadiran saya🙂.

Selamat Menempuh Hidup Baru, Krisha - Maman

Selamat menempuh hidup baru, Krisha – Maman

Norak banget ya gue… biarinlah, hahah…

Pagi ini kami dijemput oleh Fadil Father, diajak sarapan bersama dengan keluarga besarnya, sekaligus penyambutan kedatangan Fadil di Shenzhen. Sampailah kami di Phoenix Restaurant dan disambut hangat oleh keluarga besar Fadil yang sudah menunggu kami. Sambutan tersebut makin hangat setelah neneknya Fadil memberikan kami angpau, hehe. Tak begitu lama makanan datang dan disaji di meja putar, ngobrol sambil sarapan berlangsung sekitar setengah jam. Tak lama kami diajak jalan-jalan disekitar kawasan tersebut yang terkenal dengan pasar barang-barang elektronik. Berkeliling ditemani oleh Heri dan saudara perempuan sepupunya, coba tanya-tanya harga HP walaupun gak ada niat buat beli, haha.

Sarapan dan jalan-jalan ke pasar elektronik

Sarapan dan jalan-jalan ke pasar elektronik

Selesai isi perut, expedisi Kota Shenzhen pun kami mulai. Start dari pantai musim panas yang terkenal Xiaomeisha Beach, menikmati taman dengan pemandangan Pantai Dameisha, kuliner seafood di salah satu pelabuhan Shenzen, mampir ke kantor pos untuk mengirim kartu pos dan memahami sejarah dan perkembangan Kota di Shenzhen Museum.

Pantai, seafood, pos dan museum

Pantai, seafood, pos dan museum

Sudah pukul 3 siang, disini jam 3 masih belum sore, seperti jam 1 siang di waktu Indonesia bagian barat. Saatnya menuju tempat wisata utama di Kota Shenzhen, Window of The World. Kawasan taman tematik yang berisi miniatur tempat dan bangunan-bangunan terkenal di seluruh dunia. Kami habiskan hari ini ditempat tersebut, sampai acara puncak pertunjukan yang berupa kolaborasi atraksi kesenian dunia.

Window of The World

Window of The World

Pukul 9 malam pertunjukan berakhir, dengan menaiki metro kami kembali ke Hotel dan makan malam disekitar situ. Ada cerita menarik waktu selama kita di China, berbeda dengan Hong Kong yang masih cukup banyak masjid disini sangat jarang ada masjid, jadi waktu kami di Window of The World kami terpaksa sholat di salahsatu lorong dekat dengan toilet untuk melaksanakan sholat duhur dan ashar. Hari inipun berakhir dengan kenangan yang indah…

 

Jarak Shenzhen - Jakarta

Jarak Shenzhen – Jakarta

15 Juni 2014

08.00 Siap-siap berangkat menuju Guangzhou, rutenya dari hotel naik taksi menuju stasiun metro terdekat, pakai metro menuju ke stasiun utara  Shenzhen, beli roti dan susu untuk sarapan.

10.45 Naik kereta cepat ke Guangzhou (tiket 74,5 RMB) perjalanan hanya memakan waktu 35 menit untuk jarak seperti Jakarta – Bandung. Stasiun utara Shenzhen ini gede banget, kayak bandara banyak gerbang keberangkatan dan bertingkat.

Menuju Guangzhou

Menuju Guangzhou

Di Kota Guangzhou (GZ) kami mengunjungi Ancestral Temple of the Chen Family, GZ Museum, GZ Tower dan terakhir naik kapal di Pearl River berkeliling menikmati keindahan malam Kota Guangzhou.

Guangzhou

Guangzhou

Selesai mengelilingi Kota Guangzhou dengan berbagai wisatanya, saatnya bersiap-siap untuk pulang ke Shenzhen. Gawatnya kereta yang akan kami naiki sekitar 30 menit lagi akan berangkat, masalahnya lokasi kami dengan stasiun jauh, tidak akan terkejar kalau naik metro. Diputuskan untuk naik taksi dengan meminta supirnya untuk kebut. Sampai depan stasiun, walaupun masih harus putar balik, kami berhenti dan jalan kaki loncat pembatas jalan, berlari mengejar kereta. Penderitaan masih belum selesai, lokasi gate keberangkatan ada di lantai 3 dan kamipun menaiki tangga eskalator yang sudah dimatikan dengan tetap dengan berlari. Luar biasa malam yang berkesan dan melelahkan…

Ahay, di Guangzhou kami menemukan masjid🙂

Masjid di Guangzhou

Masjid di Guangzhou

16 Juni 2014

Bangun kesiangan karena kemarin malam sudah capek berlari dan kebanyakan jalan kaki. Barulah kami keluar buat jalan-jalan sekitar pukul 12.00, perjalanan ini tanpa didampingi Heri. Dengan tujuan ke masjid satu-satunya di Shenzhen, dengan plot lokasi yang sudah dibuat kami ikuti jalurnya dengan naik metro dan jalan kaki. Ternyata eh ternyata masjid yang kami cari tersebut sedang direnovasi, akhirnya kami makan siang aja, nasi ayam cukup 10RMB. Perut kenyang, tapi mau keluar melanjutkan perjalanan tampak tidak bersemangat, masalahnya siang hari dimusim panas di Shenzhen cukup menyengat 40-42 derajat celcius. Beristirahat sejenak di restoran sambil mengumpulkan semanagat untuk memulai berjalan. Tujuan selanjutnya ke Dongmen Pedestrian Street yang katanya pusat perbelanjaan Kota Shenzhen. Berkeliling sekitaran situ walau sekedar lihat-lihat, cuma beli sunglass aja. Hari ini ponakan saya, Bayu ulang tahun yang pertama, tak lupa bikin foto buat ngucapin selamat🙂

Dongmen

Dongmen

Pukul 6 sore kami balik ke hotel, Fadil dijemput bapaknya karena malam ini menginap di rumah. Istirahat sejenak, saya sama Iman melanjutkan jalan-jalan malam ke taman yang ramai orang senam malam dan bermain musik sekaligus mampir ke perpustakaan dan concert hall yang gedungnya bersebelahan. Semuanya bisa dijangkau dengan jalan kaki, walaupun lumayan jauh, yang pasti asik.

Taman, perpustakaan dan concret hall

Taman, perpustakaan dan concret hall

Balik dari sana kami sempatkan makan malam, di sebuah warung yang kemarin malam juga makan disana. Bedanya kemarin kami didampingi Heri, jadi tidak ada masalah dengan bahasa. Sekarang kami berdua yang gak tau sama sekali Bahasa China dan merekapun gak bisa Bahasa Inggris. Tapi tenang, kami sudah disiapkan secarik kertas sama bapaknya Fadil yang berisi tulisan China intinya bertulisan “pesan mie daging sapi” haha. Porsi mie kwetiau yang super duper dengan irisan daging sapi yang banyak sekali (20RMB), gak bisa kami habiskan karena sudah terlalu kenyang.

17 Juni 2014

Hari ini hari terakhir kami di Shenzhen, rencana perjalanan selanjutnya yaitu Macau via HK, kami terpaksa lewat HK karena visa kami terbatas di Shenzhen saja, hanya bisa keluar melalui imigrasi Shenzhen. Pukul 7 pagi kami bangun, sholat, mandi, siap kemas-kemas, dan mencari info mengenai perjalanan ke Macau, mumpung masih ada wifi hotel. Pukul 8 kami check out dan pamitan dengan Fadil dan bapaknya, tak lupa mengucapkan terima kasih atas jamuannya selama di kota ini. Fadil tidak ikut Saya dan Iman ke Macau karena dia punya rencana sendiri untuk berkeliling China.

Rute metro yang kami tempuh : Xiang Mihu – Luohu (urus imigrasi) – Hung Hom – East Tsim Sha Tsui, ya kami balik lagi ke Kowloon. Istirahat dan sholat di Masjid Kowloon, mampir ke seven-eleven buat beli makan siang. Santap siang di taman yang rindang disebelah Masjid Kowloon dan ditemani dengan gemercik air mancur. Recharge energi dan fisik sudah segar, kami lanjutkan perjalanan dengan mengendong backpack untuk mencari sinyal wifi, online pesan tiket pesawat pulang KUL-BDO, karena hanya tiket pulang ke Bandung yang belum kami beli. Hotspot kami temukan dibawah gedung Cultural Centre dekat Colck Tower, suasana adem dan angin sepoi-sepoi membuat kami betah internetan gratis disini dan tiket KUL-BDOpun sudah berhasil terbeli.

Masjid Kowloon, Star Ferry, Colck Tower dan Poster The Raid

Masjid Kowloon, Star Ferry, Colck Tower dan Poster The Raid

Pukul 15.00 perjalanan dilanjutkan dengan menaiki kapal dari Star Ferry ke Central, menurut petunjuk online kami tinggal jalan kaki saja dari Central ke pelabuhan yang melayani perjalanan ke Macau, jadi backpacker harus kuat jalan, mari kita jalan. Sampai di pelabuhan kami membeli tiket kapal jet HK – Macau 159RMB untuk perjalanan sekitar 1 jam. Keberangkatan masih cukup lama, kami manfaatkan waktu menunggu untuk istirahat dan melepaskan beban dari backpack. Wah lumayan ada koneksi internet disini, tapi baterai HP saya habis, saya charge HP disalah satu sudut ruang tunggu, eh… dilarang sama ibu-ibu kebersihan. Ternyata gak sengaja saya menemukan colokan listrik didalam toilet, tanpa babibu saya colok saja, gak masalah menunggu di dalam toilet juga haha. Pukul 16.45 kami boarding naik kapal jet yang ternyata mesin jetnya produksi boing. Memasuki kapal kami disambut pramugara/i dengan ac ruangan dan nomor tempat duduk yang sudah ditentukan kami serasa akan naik pesawat, ditambah lagi sebelum berangkat ada peragaan keamanan selama perjalanan oleh pramugara/i. Barang bawaan kami masukkan kabin, pasang seat belt dan nikmati perjalanan. Pukul 17.50 sampai ke Pelabuhan Macau urus imigrasi dan santai sejenak di pelabuhan online dan lanjut charge HP.

Kondisi pelabuhan yang cukup nyaman dengan fasilitas lengkap plus ada air minum hot and cold🙂, kami putuskan kalau malam ini kami numpang tidur disini. Sedikit berkeliling untuk mencari fasilitas loker yang ternyata tidak ada, akhirnya kami jalan-jalan malam di Macau dengan mengendong barang bawaan. Tujuan malam ini tidak banyak, cukup Macau Tower, St. Paul’s dan Gemerlap Casino.

Dari Pelabuhan naik bis nomor 32 sampailah kami ke Macau Tower tempat syuting running man dulu, jeprat-jepret plus menikmati pemandangan sejenak, lanjut naik bis nomor 18 ke St. Paul’s, cukup lama kami disini karena suasananya yang enak untuk bersantai ditambah lagi ada kelompok orang yang nampaknya berasal dari Filipina, sedang bercanda dan sambil melantunkan lagu dengan gitarnya, secara tidak langsung menambah syahdu malam ini di St. Paul’s ah… santai malam ini dengan membaringkan badan menatap bintang. Setelah puas, sekitar pukul 03.00 pagi kami lanjutkan berjalan kaki menuju Gemerlap Casino, tak lupa mampir dulu beli mie untuk mengisi energi dengan ditemani hujan kami santap mie hangat sambil berteduh di samping jalan depan sekolah. Namanya Macau yang terkenal ya Casino dengan gemerlap lampunya, sekedar foto di depannya sudah cukup buat kami, selesai sudah perjalanan malam di Macau.

Malam hari di Macau

Malam hari di Macau

Menunggu bis untuk ke pelabuhan tak kunjung datang dan sepertinya memang sudah tidak beroperasi, cek peta di HP jaraknya sekitar 2,5Km yaudah jalan saja. Selama perjalanan kami menemukan kartu-kartu bergambar perempuan plus nomor HP berserakan di tortoar jalan, memang Macau ini surga tempat hiburan dan judi. Sekitar pukul 04.00 pagi kami sampai di Pelabuhan tadi, cuci muka, sikat gigi, sholat dan tidur apa adanya di kursi tunggu penumpang. Selamat tidur pagi…

18 Juni 2014

Dengan jam tidur yang seadanya kami mencoba bangkit dari rasa ngantuk yang sangat amat. Ekspedisii Macau pagi ini kami lanjutkan, tapi sebelumnya cuci muka dulu biar gak kusut, dimulai dari naik bis 3A niatnya ke Museum Sains, malah nyasar ke ujung utara Macau “Big Gate” jalur utama perbatasan Macau – China, ya udah foto-foto dulu disini. Kembali pake bis 3A arah sebaliknya sampailah kami di Science Museum dan jalan kaki sedikit ada Art Museum sekalian kirim kartu pos yang kebetulan ada kantor pos di basementnya. Sekedar info, kalau di Macau buat bayar-bayar bisa pakai HKD, USD atau mata uang aslinya MOP.

Macau di siang hari

Macau di siang hari

Tak lama kami berkeliling, saatnya menuju bandara untuk melanjutkan perjalanan ke negeri seberang Filipina. Tiket yang sudah kami beli yaitu MFM-MNL alias Macau – Manila versi promo seharga Rp. 350.000. Menuju bandara, tinggal naik bis AP1 4,3MOP dari halte dekat Sand Casino. Pukul 12.00 sampai juga di Bandara Macau, karena masih lama boarding-nya kami manfaatkan untuk istirahat makan siang habisin sisa receh uang HKD, sholat, tidur sejenak bergantian dan tidak lupa charge HP. Untuk masuk ke Filipina kami harus menunjukan juga tiket keluar Filipina. Cari tempat untuk print tiket pulang, akhirnya bisa diprint juga di loketnya AirAsia. Pukul 15.40 kami terbang menuju Manila, sampai di Ninoy Aquino International Airport kami lupa untuk menukar uang ke PHP. Informasi dari petugas bandara, loket penukaran uang ada di terminal 3 yang harus kami tempuh dengan bis antar terminal yang tidak gratis. Terpaksa kami menukarkan uang sedanya ke petugas tersebut 20HKD dapat 60PHP cukup untuk sekedar beli tiket bis ke terminal 3 tempat penukaran mata uang.

Setelah menunggu cukup lama kedatangan bis antar terminal, kami tanya-tanya dan cari informasi, ternyata tepat di sebrang bandara tersebut ada komplek pertokoan dan salah satunya ada tempat penukaran mata uang. Wah, kami dibohongin ama petugas bandara yang tadi yang bilang gak ada tempat nukar uang, biar tukar dengan harga rendah ke dia, ya tak apalah untungnya cuma 20HKD. Lalu beranjaklah kami ke Salim Square, sebuah komplek pertokoan depan bandara untuk tukar uang dan dilanjutkan jalan kaki ke stasiun kereta yang jaraknya sekitar 1,5km. Di dekat stasiun kami menemukan masjid, mari sholat maghrib dan isya dahulu. Naik kereta dari Baclaran ke Pedro Gil cuma 15PHP. Kereta yang kami naiki ini penuh banget, persis seperti naik komuter di Jakarta pas jam pulang kantor. Sampai di Stasiun Pedro Gil kami lanjutkan jalan kaki ke Wanderers Guest House, guest house yang sudah kami cari diinternet karena murahnya dan terletak di pusat kota. Sesudah mandi dan istirahat sejenak, kami keluar dan duduk-duduk di bar guest house buat cari koneksi internet sekalian menulis catatan perjalanan. Malam itu ternyata ada free bir dari bar dan kami sudah disodorkan 2 botol bir gratis, jelas kami gak bisa menerimanya, dengan sopan kami tolak kebaikan orang tersebut hihi.

Macau - Manila

Macau – Manila

Jalan-jalan keluar hostel hanya beberapa langkah, kami sudah disodorin foto-foto cewe sama orang-orang di jalanan. Wah ternyata hostel yang kami tempati ini banyak bar dan tempat-tempat hiburannya. Pantesan banyak bule-bule yang berseliweran, surga buat mereka nih haha. Mampir sejenak ke seven-eleven beli sumpelan buat perut dan langsung balik ke hostel, tidur… hoam, nagantuk banget.

19 Juni 2014

Ini dia coret-coretan yang saya tulis selama perjalanan, hanya ditulis headline-nya saja karena fungsinya hanya untuk mengingat, jabarannya ada di kenangan otak saya hehe.

Coretan perjalanan

Coretan perjalanan

Sesuai dengan coretan perjalanan sdiatas, hari ini kami bangun pagi kira-kira pukul 10.00, badan segar setelah nyenyak tidur semalaman, cukup buat mengantikan kemarin malam yang tidur apa adanya di Pelabuhan Macau. Secara singkat rute perjalanan mengelilingi sebagian Kota Manila yaitu Hostel – Edzen Money Changer (mau tuker uang tapi harus pesen dulu karena nilainya lumayan besar) – Rizal Park – Museun Nasional – Kantor Pos (kirim oleh-oleh kartu pos) – Muslim Town (makan siang 50PHP dan sholat) – Catedral – Pantai – Edzen Money Changer – Hostel. Sebagian besar gedung-gedung pemerintahan dan gereja-gereja disini merupakan peninggalan masa jajahan Portugis jaman dulu, jadi jalan-jalan kami serasa di eropa wkwk. Oya, semua perjalanan diatas tanpa menggunakan kendaraan lho, full jalan kaki.

Kota Manila

Kota Manila

Yang menarik di Filipina ini, kalau mau masuk dan keluar pusat perbelanjaan, harus dicek dulu barang bawaan kita termasuk plastik belanjaan dan yang unik lainnya ada alat transportasi umum semacam angkot, namanya Jeepney.

Antri dan Jeepney

Antri dan Jeepney

Sekitar jam setengah enam sore kami menuju pantai lagi, liat sunset. Pantai ini  cocok buat liat sunset karena posisinya dibagian barat. Walaupun langit berawan dan sunset tidak terlihat utuh, kami tetap ditempat sekedar kongkow-kongkow di tepi pantai menghabiskan sisa langit merah Manila. Informasi dari peta kami, disekitar hostel ada masjid, lalu kami beranjak dari pantai untuk mencarinya, tapi sebelunya, mampir hostel dulu buat ambil sarung. Keliling-keliling dan kami tidak menemukannya, yaudah deh makan malam aja. Tak lama, kami langsung balik ke hostel, mandi, sholat dan cari koneksi internet buat update. Ealah, koneksi inet putus-putus dan bikin kesel, yah… tidur aja kalau gitu.

Sunset di Manila

Sunset di Manila

20 Juni 2014

Pagi hari sekitar pukul 07.00 kami bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke kota lain dan juga beda pulau, tapi masih tetap di Filipina yaitu Kota Puerto Princesa. Tiket sudah dibeli sebelumnya seharga Rp. 250.000 untuk penerbangan MNL-PPS alias Manila – Puerto Princesa. Pukul 08.00 check out hostel dan berjalan kaki menuju Stasiun Pedro Gil untuk menuju ke Stasiun Baclaran, setasiun terdekat dengan bandara. Sampai di Stasiun Baclaran, diluarnya banyak penjual pakaian, makanan dan barang-barang kebutuhan sehari-hari, termasuk diantaranya makanan halal. Sejenak mampir beli nasi kotak 20PHP + nasi bungkus 10PHP, makannya nanti saja di bandara. Perjalanan dari stasiun ke bandara dilanjutkan jalan kaki saja hehe, karena terbangnya masih lama sampai bandara kami tidak langsung masuk, duduk-duduk dulu diluar sambil santap makanan tadi. Selesai istirahat diluar kami masuk bandara, cetak tiket dan menunggu lagi. Wew… diruang tunggu bandaranya panas dan gerah, tidak semua ac-nya menyala, banyak penumpang yang sedang menunggu di ruangan itu kipas-kipas waduh.

Pukul 11.40 Boarding, perjalanan sekitar 1,5 jam, sampai di Bandara Puerto Princesa kami duduk-duduk sejenak sekalian cek wifi, Ada pemandangan yang cukup mendominasi di bandara ini yaitu banyak sekali turis asal Korea. Disini kami sudah dapat tempat untuk tinggal, menumpang disalah satu anggota Couch Surfing, namanya Jonathan. Jalan kakilah kami keluar bandara untuk mencari tricycle (sejenis becak motor), padahal di bandara juga ada pangkalan tricycle, biar lebih hemat saja carinya diluar🙂.  Sampai di rumah Jonathan kami tidak kemana-mana lagi, hanya sekedar bersantai saja dirumah sampai malam dan tidur.

Perjalanan Manila - Puerto Princesa

Perjalanan Manila – Puerto Princesa

 

21 Juni 2014

Hari ini kami manfaatkan untuk mencuci baju, lumayan banyak baju kotor terutama celana dalem hehe. Keluar rumah Jonathan sekitar pukul 09.00, menuju kota pakai tricycle dengan tujuan pertama Taman Mendosa dan Museum Palawan yang kebetulan memang satu kompleks dan kami sempatkan membeli coklat hangat dari mesin otomatis yang ada didekat taman 5PHP saja. Lanjut dengan jalan kaki ke Catedral, Eulalia Park dan Plaza Cuartel. Menurut peta Puerto Princesa yang kami bawa, ada masjid di sekitar Plaza Cuartel, tapi setelah dicari bolak-balik gak ketemu. Akhirnya kami lanjutkan saja ke swalayan terdekat buat cari makan siang, istirahat sejenak sambil melihat hiruk pikuk orang-orang yang lagi belanja. Sama seperti di Manila, masuk dan keluar swalayan ini tas dan segala bawaan dicek sama keamanan. Kebetulan swalayan yang kami singgahi dekat dengan pantai yang ada bay walk-nya, mampir dulu kesana.

Cuaca mendung dan gerimis rintik-rintik, membuat kami tidak bisa lama-lama dipantai dan diputuskan berteduh dulu ke Swalayan yang tadi. Hari sudah sore perjalanan kami sudahi dengan kembali naik tricycle ke arah rumah Jonathan tapi sebelumnya mampir dulu ke Masjid buat sholat Dhuhur sekaligus Ashar, mampir beli roti buat persediaan makan malam dan pulang. Sampai rumah Jonathan kami disambut kedua anjingnya yang selalu menggonggong dan mengajak main siapapun yang datang ke rumah. Berita duka menyelimuti kami, karena cucian yang tadi kami cuci tidak kering, cuaca mendung dan sempat hujan membuat hati juga mendung. Aduhh…

Keliling Kota Puerto Princesa

Keliling Kota Puerto Princesa

Sepertinya kata-kata ditulisan ini saya cukupkan, selanjutnya biar foto-foto perjalanannya saja ya…

 

22-23 Juni 2014 : Puerto Princesa – Filipina

31

24-29 Juni 2014 : Cebu – Filipina

32

30 Juni 2014 : Kuala Lumpur – Malaysia (akhir perjalanan akbar ini, balik ke Bandung)

33

Salam Backpacker…

 

 

 

 

 

 

 

 

One response to “Banyak Jalan Menuju China

  1. keren..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s