Galeri Asian African Carnival 2018

Asian African Carnival adalah salah satu menu utama dalam pagelaran Asia Africa Week 2018 kali ini. Selain penampilan seni dan budaya dari perwakilan negara anggota Asia Afrika kami juga akan melibatkan negara – negara sahabat, Bandung Sister Cities, dan Kabupaten Kota di seluruh Indonesia.

Untuk menambah semarak dan semakin memberikan ruang bagi masyarakat umum maka kami membuka sebuah sayembara untuk para pelaku seni pagelaran kriya karnaval untuk dapat menampilkan hasil karya mereka kepada para pengunjung dan memperebutkan total hadiah puluhan juta rupiah. Kurasi konten akan kita tekanan pada kegiatan karnaval kali ini, dimana setiap penampilan akan diperhitungkan konten nya sehingga tidak akan memberikan kesan monoton pada para pengunjung.

Berbeda dengan tahun tahun sebelumnya, Asian African Carnival kali ini kami menggunakan 2 panggung utama yang kami tempatkan di ruas Jl. Braga Pendek dan Jl. Soekarno, dengan adanya 2 panggung utama ini kami berharap dapat mengakomodir kebutuhan semaraknya sebuah kegiatan. Dengan melibatkan artist nasional kami yakin Asian African Carnival kali ini akan memberikan kesan semarak yang berbeda.

Waktu : Sabtu, 28 April 2018 / Tempat : Jalan Asia Afrika / Sumber artikel : http://asiaafricaweek.com/carnival/

Berikut hasil jepretan-jepretan saya di acara Asian African Carnival 2018 :

             Bagi pembaca yang fotonya ada diatas, bisa saya berikan file mentahnya untuk kenang-kenangan. Silahkan komen dibawah, terima kasih semoga bermanfaat.

Advertisements

September 2016 : Bulan Kereta Api

Jujur saja, saya bingung memberi judul untuk cerita perjalanan kali ini. Intinya pada bulan September 2016 kali ini saya berkelana ke Jawa Timur menggunakan kereta api dan secara kebetulan hari kereta api juga  jatuh di bulan ini pada tanggal 28, ya sudah lah dibuat judul seperti itu saja.

02 September 2016

Terbangun dari tidur karena alaram HP berbunyi tepat pukul 03.30, mari kita persiapan untuk perjalanan panjang menuju Surabaya, tiket kereta ekonomi KA Pasundan yang sudah dibeli dengan harga 94.000 tidak lupa kami bawa. Pagi-pagi buta saya dan satu teman saya bersiap berangkat dari Dago menuju Stasiun Kiaracondong menggunakan motor yang nantinya bakal kita inapkan untuk parkir di stasiun (parkir inap 12.000/hari) go.. go.. go.. bismillah….

Sekarang jadwal keberangkatan kereta sudah tepat waktu, jadi jangan main-main, kalau telat bisa ditinggal. Sebelum boarding, kami cetak boarding pass dulu dimesin check-in yang sudah ada, masukan kode booking, boarding pass tercetak.  Beragkat pukul 05.20 KA Pasundan mulai bergerak, persiapkan mental untuk perjalanan 16 jam lebih wow. Bagi traveller yang lapar dan pingin berhemat, anda bisa makan enak plus kenyang di Stasiun Lempuyangan, disana ada warung-warung dalam stasiun yang menyediakan nasi bungkus 10.000-an dengan varian lauk yang bisa dipilih, yang perlu diwaspadai waktu berhentinya kereta sekitar 10 menitan, jadi bersegeralah… Sampai Stasiun Gubeng Surabaya sekitar pukul 10 malam, kami makan malam sekalian ngopi dulu diluar stasiun, menunggu KA Jayabaya yang akan mengantarkan kami ke Stasiun Lawang.

Jadwal KA Pasundan dan Jayabaya

1609-01

03 September 2016

Sampai di Stasiun Lawang sudah berganti hari, saya dijemput sama teman dan ikut numpang tidur di rumahnya, tidur sebentar hanya 3 jam-an karena pagi ini saya harus berangkat ke Probolinggo. Agenda utama datang kesini itu menghadiri pernikahan teman saya di Probolinggo, saya beserta rombongan yang sudah berkumpul di Lawang bersiap berangkat ke nikahan dengan menyewa mobil. Pulang nikahan mampir ke Masjid Agung Probolinggo yang berada tepat di barat alun-alun kota, dilanjutkan jalan-jalan ke Pantai Bentar. Malam harinya sekedar ngopi-ngopi lesehan di sudut Kota Malang.

1609-3

04 September 2016

Hari ini, mengantar teman ke Bandara Abdurachman Saleh, ngedrop teman satu lagi di CFD Kawasan Ijen, jalan-jalan ke Kota Batu dan berendam air panas di Cangar. Malam harinya kami mengunjungi Alun-alun Malang, mampir ke Masjid Agung dan sewa motor buat touring ke Bromo besok. Sewa motor di Malang rata-rata 75.000/24 jam untuk jenis motor matic biasa, tapi khusus untuk ke Bromo sebaiknya tidak pakai motor matic yang biasa biar aman. Kami direkomendasikan Yamaha Nmax yang cukup tangguh untuk menjelajah lautan pasir Bromo dengan harga sewanya 125.000/24 jam.

1609-04

Bandara – Kota Batu

05 September 2016

Semangat pagi menemani kami karena petualangan hari ini akan menantang dan berkesan. Perjalanan menuju Bromo kami tempuh dari Lawang dengan menggunakan motor dan akan pulang dengan rute yang berbeda. Kami tidak mengambil jalur jalan-jalan besar, tapi rute jalan-jalan berkelok dan perkebunan. Sebelum masuk ke lokasi wisata, kami beli tiket dulu di Pos BTNBTS (Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) yang berlokasi di Wonokitri. Harga tiket masuk per 1 Juni 2016 untuk Bromo dan sekitarnya, hari biasa : Wisatawan Nusantara 27.500; Wisatawan Mancanegara 220.000; hari libur : Wisatawan Nusantara 32.500; Wisatawan Mancanegara 320.000; Mobil 10.000 / sekali masuk dan motor 5.000 / sekali masuk. Sayangnya kami belum beruntung kali ini, sampai Pananjakan jam 10.00 view-nya sudah tertutup kabut putih tebal. Gambaran Kawah Bromo dan Gunung Batok yang diidam-idamkan selama perjalanan tidak dapat terlihat :(. Setelah menunggu sekitar 1 jam di Pananjakan sekalian beristirahat juga, kami lanjutkan perjalanan ke Kawah Bromo.

Arah menuju Kawah Bromo dari Pananjakan didominasi jalan menurun, sehingga perjalanan terasa lebih cepat dari berangkatnya wussss….. hehe. Sampai Kawah Bromo kami parkirkan motor dilanjutkan jalan kaki dan mendaki, beli kopi dulu biar bisa disruput diatas kawah. Pemandangan yang menakjubkan buah dari proses geologi atas instruksi Sang Maha Kuasa, hamparan lautan pasir yang membentang, Gunung Batok yang menjulang, kawah yang bergejolak dan aksen Pura Luhur Poten milik masyarakat Hindu Tengger, luar biasa. Setelah puas dengan pemandangan Kawah Bromo perjalanan kami lanjutkan ke Blok Savana yang terkenal dengan Bukit Teletubies-nya. Seusai foto-foto di Blok Savana, kami tunggangi kembali motor dan beranjak pulang. Lautan pasir memberikan sensasi tantangan perjalanan yang menarik, terkadang teman saya terpaksa harus turun motor agar beban motor berkurang dan dapat melintasi tanjakan “pasir berbisik”. Entah beberapa kilometer lautan pasir yang kami lalui, dibagian akhir ujung arah menanjak jalan mulai mengeras dan berubah menjadi aspal. Kabut mulai turun dan hari mulai gelap, setelah berapa jam sampailah kami di Lawang Alhamdulillah.

bromo

Malam ini kami menginap di Kota Malang karena besok subuh kami harus ke Stasiun Malang sebelum subuh menuju Surabaya dan dilanjut pulang ke Bandung.

06 September 2016

Menjelang subuh kami bersiap untuk perjalanan pulang ke Bandung. Dari hotel tempat kami menginap dekat dengan stasiun kereta, jadi tinggal jalan kaki deh ke stasiunnya. KA Tumapel kami masuki, membawa serta kenangan perjalanan kali ini di Jawa Timur menuju Stasiun Gubeng dan perjalanan dilanjut ke Bandung dengan KA Pasundan.

tiket

Tiket Kereta Api PP

kaPerjalanan menggunakan kereta api ekonomi memang sangat melelahkan dan lama, tapi bagi kami itu merupakan bagian dari wisata dan kami menikmatinya. Ketika kereta harus berhenti lantaran mengalah pada kereta lain yang akan lewat, ketika kereta harus berhenti karena generator listrik bermasalah yang mengakibatkan AC mati, ketika kami bisa bebas turun naik untuk membeli makanan dan kopi dengan sensasi terburu-buru karena takut tertinggal kereta di beberapa stasiun pemberhentian, ketika pemandangan alam tersuguhkan diluar kereta dengan tidak begitu cepat jalannya, ketika sepanjang perjalanan bisa berbagi makanan satu sama lain dan ketika kami tau kehidupan penumpang lain di satu blok kursi yang sama, itu menyenangkan.

Terimakasih Malang, Probolinggo, Batu dan Surabaya atas kenagannya…

Bandung Graffiti

Sebaran hasil karya seniman Bandung dapat anda nikmati di beberapa jalan dan sudut kota. Berikut ini Saya tampilkan beberapa diantaranya :


Dibawah Jalan Layang PASUPATI (Pasteur – Surapati)

pasupati01pasupati02pasupati03pasupati04


Sepanjang jalan Tamansari

tamansari01tamansari02tamansri03


Sepanjang Jalan Babakan Siliwangi

siliwangi


Sekitaran Stasiun Bandung

stasiun


Geologi Kopi

wp_001576

Sak pel’le tulisanku sing terakhir pas wulan Agustus 2015 iku, baru saiki rosone pingin nulis meneh sekalian ngisi waktu liburan panjang akhir pekan mergo ono tanggal abang, Jumat Agung – Bahasa Jawa (ditulis italic/miring karena merupakan bahasa asing buat orang asing hehe)

Semenjak tulisan saya yang terakhir dibulan Agustus 2015, baru sekarang rasanya pingin menulis lagi, sekaligus mengisi waktu liburan panjang akhir pekan karena ada tanggal merah, Jumat Agung – Terjemahan Bahasa Indonesia

Tidak perlu banyak preambule, kita langsung aja bahas topik sesuai judul diatas, hari ini 25 Maret 2016 bertepatan dengan Jumat Agung dan bertepatan pula dengan saya membeli kopi produk baru dengan selembar 2000-an dapat 2 bungkus di toko yang berada di bilangan Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong – Kota Bandung, saya mulai topik ini. Awalnya cuma niat beli kopi kapalapi spesial mix yang biasa saya sruput kalau lagi saya minum (yo mesti), ternyata hadir kopi produk baru di toko tersebut yang memalingkan niat awal saya. Biasanya sehari-hari kalau ngopi ya antara kapalapi spesial mix, ABC moca dan kadang-kadang Lee Min Ho juga saya sruput hehe (luwak white koffie /red). Entah kenapa, untuk versi kopi sachet saya cuma suka yang itu aja, tapi bukan berarti yang lain saya tidak suka, kalau ada yang kasih kopi merek lainpun saya langsung hajar. Nah, ini kok tiba-tiba ada kopi keluaran baru dari om TORA yang makan BIKA di Waka TO-BI alias torabika muncul, produk barunya yang diiklankan bertubi-tubi di TV, radio (saya masih dengerin radio lho) dan mensponsori turnamen besar sepakbola seperti, Jendral Sudirman dan Bhayangkara Cup mengusung produk baru ini, apakah produk barunya? “torabika duo”, produk ini yang akan saya bahas karena diiklannya sudah membawa nama “tanah vulkanik”.

(Sambil sruput kopi torabika duo) Diiklan barunya kopi ini mengangganp dirinya paling mantap kerena “bijinya” biji kopi maksudnya hehe, ditanam di tanah vulkanik. Apa memang bener ya kalau ditanam di tanah vulkanik bisa jadi lebih enak? yang pasti waktu tadi saya sruput kopi torabika duo tidak merasakan adanya rasa tufa atau piroklastik dan bubuk kopinya juga tidak mengandung abu vulkanik / wedhus gembel hehe, ya jelas gak lah. Pernyataan di iklan inilah yang akan saya preteli, dalam membuktikan sebuah pernyataan, klausul pernyataan tersebut harus mampu menjawab  5W 1H, pasti semua sudah pada tahu kan apa itu 5W 1H kan, ayo kita preteli satu persatu.

What : Apa itu tanah vulkanik?

  • Tanah vulkanik berasal dari endapan vulkanik – endapan vulkanik berasal dari batuan vulkanik yang mengendap – batuan vulkanik berasal dari magma yang terkandung di dalam bumi, kenapa istilahnya “terkandung” karena magma secara berkala dilahirkan dalam bentuk letusan gunung api atau lava dari mulut rahim gunung berapi (mix bahasa geo-bio-logi hehe). Apa sepesialnya batuan vulkanik ini? ya, spesial pastinya, kalau gak spesial ngapain jadi bahan buat iklan.
  • Spesial karena kandungan mineralnya, batuan vulkanik membawa mineral-mineral yang dilaluinya selama perjalanan dari dapur magma menuju permukaan. Dapur magma ini dapur paling panas di bumi, isinya batuan cair pijar. Si dapur ini yang mensuplai kantong-kantong magma yang terbentuk di tubuh gunung-gunung api untuk didistribusikan ke permukaan bumi, melalui letusan atau aliran lava dan masyarakat menerimanya sebagai bencana dan sekaligus anugerah karena setelah letusan gunung timbul-lah srimulat (Pak Timbul – Srimulat) rak lucu le… haha, setelah letusan genung api masyarakat dianugerahi tanah-tanah yang subur, material-material batuan yang kulaitasnya baik untuk bangunan dan anugrah yang baru yaitu kopi-kopi yang enak.
  • Mineral apa saja yang ada di endapan vulkanik? kandungan mineral pada batuan vulkanik tidak selalu sama disetiap tempat, karena tergantung kandungan meneral batuan yang dilewatinya ketika dia OTW ke permukaan, tapi umumnya ada 2 kelompok mineral untuk batuan vulkanik, jika kita merujuk pada pengelompokan mineral batuan beku, yaitu :
  1. Mineral Felsik, yaitu mineral yang berwarna terang, terutama terdiri dari mineral kwarsa, feldspar, feldspatoid dan muskovit.
  2. Mineral Mafik, yaitu mineral yang berwarna gelap, terutama biotit, piroksen, amphibol dan olivin.

Where : Dimana batuan vulkanik diendapkan?

  • Pada umumnya batuan-batuan vulkanik diendapkan disekitar gunung api dan di situ-lah tanaman kopi ditanam. Untuk di negara kita ada Dataran Tinggi Gayo yang menghasilkan Kopi Gayo yang sudah terkenal bagi para penikmat kopi. Dataran Tinggi Gayo ini merupakan deretan gunung bukit barisan yang membentang sepanjang Pulau Sumatera. Ada tiga kabupaten di Aceh yang menghasilkan kopi tanah vulkanik Gayo yaitu Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Gayo Lues. Alhamdulillah saya sudah pernah melewati kabupaten ketiganya dan menikmati langsung kopi khasnya (perjalanan ke Aceh bisa dibaca di : Perjalanan panjang “Paris – Mekah”).
  • Kopi Bali yang berasal dari Dataran Tinggi Kintamani. Kecamatan Kintamani terletak di Kabupaten Bangli, dengan pesona Gunung Batur-nya, kecamatan ini mempunyai pesona indah alam yang memadukan kaldera dan gunung berapi serta dianugrahi kopi kualitas tinggi tentunya.
  • Kopi Toraja yang berasal dari Pegunungan Latimojong, yang membentang sepanjang Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Enrekang, Kabupaten Luwu dan Kabupaten Sidenreng Rappang – Sulawesi Selatan.
  • Kopi Flores yang berasal dari Dataran Tinggi Ngadha merupakan kawasan pertemuan dua lereng gunug api, yaitu Gunung Inerie dan Gunung Abulobo. Secara administratif kawasan tersebut merupakan wilayah dua kecamatan, yaitu Kecamatan Bajawa dan Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada – Provinsi Nusa Tenggara Timur.
  • Kopi Jawa tersebar di banyak tempat, salah satunya di Kabupaten Temanggung – Jawa Tengah yang berada di perpaduan lereng Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro; di Jawa Timur ada Kopi Bondowoso yang beasal dari Gunung Raung; dan di Jawa Barat setidaknya ada 9 gunung penghasil kopi, yaitu : Gunung Tangkuban Parahu, Tilu, Halu, Wayang, Malabar di kawasan Bandung, Cikuray, Papandayan dan Patuha di wilayah Garut dan Gunung Manglayang di Sumedang.

When : Kapan?

  • Pertanyaan “when” apa ya yang paling cocok untuk mendukung pernyataan “kopi dari tanah vulkanik lebih enak”
  • hemmm… mungkin ini : Kapan saatnya menanam kopi di tanah vulkanik? jelas jawabnannya waktu gunung sedang tidak erupsi dong hehe –> maksa

Why : Kenapa kopi yang ditanam di tanah vulkanik lebih enak?

  • Ya… karena di tanah vulkanik mengandung mineral-mineral batuan (unsur hara tanah) yang tidak dimiliki tanah non vulkanik –just simple like that… hehe

Who : Siapa yang bisa membuktikan kopi dari tanah vulkanik lebih enak?

  • Siapapun orangnya bisa membuktikan kalau kopi dari tanah vulkanik memang lebih enak, silahkan coba.

How : Bagaimana bisa lebih enak?

  • Hehe… kalau pertanyaannya seperti itu, jawabannya bisa pakai jawaban di pertanyaan why diatas.

Demikianlah analisa saya yang sedikit ngawur mengenai kopi tanah vulkanik, yang pasti gak se-ngawur guyonan jadul ini : “mengapa why selalu always? karena because tidak pernah never” wkwkwk gak lucu le… dan ternyata kekuatan iklan yang bertubi-tubi yang menghantam saya via mata dan telinga membuat saya ingin mencoba torabika duo dan hasil riset lidah perasa saya menyimpulkan rasanya tidak mengecewakan dapat bersaing dengan kapalapi spesial mix.

Tulisan ini tidak di-endorse dari produk manapun karena aku mah apa atuh… hanya butiran debu (judul lagu) dan untuk kapalapi spesial mix, saya masih suka, gak perlu bersedih hanya karena ada saingan baru. Kalau ditanya kopi apa yang lebih enak dari kopi tanah vulkanik? saya akan jawab, kopi yang bijinya ditanam di tanah vulkanik dan keluar dari silit luwak… hehe, sehingga orang-orang yang sudah merasakan kopi yang seperti itu bisa berucap “Luwak… kopi dari silit-mu numero uno“.

Pernah suatu waktu ada pameran di kampus, salah satu pengisi pamerannya adalah produsen kopi luwak, di depan stand-nya terpajang tulisan kopi luwak 250rb/cangkir dan ada meja kursi untuk kita minum, sambil minum kita bisa menyaksikan luwak yang sedang dikandangkan sekaligus dibawahnya ada hasil ekskresi-nya, slluuurpp nikmat.

– Sekian… ditulis di kamar Anto yang sedang main dota. Jumat, 25 Maret 2016

Perjalanan panjang “Paris – Mekah”

Judulnya sangat memukau ya? tapi sebenarnya sampai saat ini saya belum pernah ke Paris maupun Mekah, maka dari itu kenapa saya beri tanda petik “” pada Paris – Mekahnya hehe. Ada tidak yang diantara pembaca yang buka link ini karena judulnya? jangan merasa kejebak ya… itulah kekuatan judul artikel online saat ini, yang menonjolkan judul terlebih dahulu biar para penggiat sosial media membuka arikelnya.  Oke, tanpa berniat menipu pembaca dengan judulnya, cerita ini adalah pengalaman perjalanan saya dari Bandung yang katanya “Paris van Java” menuju Banda Aceh yang terkenal dengan “Serambi Mekah” memang banyak daerah di Indonesia yang mendapat julukan-julukan seperti Pekalongan sebagai Kota kreatif dunia :).

Perjalanan ini berawal dari tugas kepanitiaan yang saya ikuti, mungkin tidak perlu dijelaskan kepanitiaan apa ya… Karena ini bentuknya program kegiatan yang diadakan di Aceh, jadi sebanyak 4 kali perjalanan pulang – pergi harus saya jalani dengan hati gembira tentunya hihi… Cerita singkatnya sebagai berikut :

Tanggal 19 Februari 2015 petualangan dimulai dari Bandung menaiki mobil travel Cipaganti jam 03.00 menuju Bandara Soekarno Hatta. Sekitar pukul 05.30 sampai bandara, karena kami rombongan panitia 8 orang dengan banyak barang yang dibawa tanpa berlama-lama langsung cek-in aja, eh sebelumnya sempetin dulu ke WC dan keperluan pribadi dulu ya. Counter cek-in Lion Air penuh dan sangat riuh, ada orang-orang yang mencoba mendahului dengan alasan bermacam-macam dan ada yang mencoba membawa “petugas bandara” biar bisa dipercepat. Waduh baru sadar kalau hari ini hari libur nasional tahun baru imlek, tapi Alhamdulillah penerbangan kami tepat waktu diantara banyak penerbangan-penerbangan lain yang ditunda terutama penerbangan menuju Sumatera, beruntungnya kami waktu itu (berita banyak penerbangan Lion Air yang ditunda ini cukup menyita perhatian dan banyak media memberitakannya). Sampai Bandara Sultan Iskandar Muda di Aceh Besar sekitar pukul 13.00, ini dia pertama kali saya menginjakan ke tanah rencong, di bandara kami sudah ada yang menjemput lalu diajak makan siang dan langsung rapat di Banda Aceh. Apa yang terjadi selanjutnya? tanpa menginap, sorenya saya langsung ditugaskan menuju Kutacane – Aceh Tenggara. Hanya bermodal istirahat makan siang perjalanan panjang via darat pun dimulai. Rute perjalanannya kurang lebih yaitu : Banda Aceh – Aceh Besar – Pidie – Pidie Jaya – Bireun – Aceh Tengah – Gayo Lues – Aceh Tenggara seluruhnya 18 jam perjalanan, walaupun cuma duduk tapi badan ini terasa sekali pegal-pegalnya, tak apalah karena saya justru senang karena langsung bisa melintasi Provinsi Aceh dari Utara sampai ke Perbatasan dekat Sumatera Utara alias di Kutacane.

Kutacane - Aceh Tenggara

Kutacane – Aceh Tenggara

Setelah selesai kegiatan disini, kami kembali ke Banda Aceh di hari Sabtu, 21 Februari 2015 sekitar pukul 14.00 menelusuri jalan yang sama ketika berangkat, perjalanan melintasi malam dan sampai di Banda Aceh pas adzan subuh, langsung kami menuju Masjid Baiturrahman untuk sholat berjamaah. Istirahat satu hari di Kota Banda AcehSaatnya pulang menuju “Paris van Java” via Cengkareng.

Banyak cerita dan pengalaman berkunjung di tanah rencong ini, karena setelah kegiatan bulan Februari itu saya dan tim panitia bolak-balik Bandung-Aceh 3 kali lagi, ceritanya berlanjut dalam bentuk foto saja ya…

MAsjid Baiturrahman - Banda Aceh

MAsjid Baiturrahman – Banda Aceh

Monumen PLTD Apung

Monumen PLTD Apung

Museum Tsunami

Museum Tsunami

Kapal di Atas Rumah - Lampulo

Kapal di Atas Rumah – Lampulo

Sunset di Banda Aceh

Sunset di Banda Aceh

Pantai Lampuuk

Pantai Lampuuk

Keliling 4 Negara Asean

Kejadian ini sebenernya sudah lama (4-22 Juni 2012) tapi sayang kalau tidak didokumentasikan dalam tulisan. Perjalanan ke 4 negara Asean ini yaitu Malaysia, Thailand, Kamboja dan Vietnam. Mungkin saya tidak akan bahas detail bagaimana peristiwa-peristiwa detail tiap kota yang disinggahi, cuma mau sharing rute perjalanannya saja. Semoga bisa membantu para backpacker sekalian yang akan berkeliling asean.

Rute 1 : CGK – KUL

Tanggal 4 Juni 2012 saya langkahkan kaki ke Bandara Soekarno Hatta (CGK), dengan mengambil penerbangan pagi sekitar jam 8 menggunakan maskapai LionAir saya dibawa ke Kuala Lumpur, Malaysia.

LionAir CGK - KUL

LionAir CGK – KUL

Rute 2 : Kuala Lumpur – Krabi

Dihari yang sama di Kuala Lumpur saya bertemu teman saya Sufi di KLCC dan nantinya melanjutkan perjalanan bersama.

Pertama kali sampai Bandara KLIA saya menggunakan bus ke KL Sentral dan dilanjutkan menggunakan kereta ke KLCC. Kenapa harus ke KLCC? karena saya janjian bertemu Sufi disitu dan sekaligus mengabadikan momen di Petronas Twin Tower.  Setelah puas di KLCC dilanjut perjalanan ke Terminal Puduraya. Dari terminal ini kita bisa naik bus ke Thailand dengan banyak destinasi Kotanya. Kami pilih ke Kota Krabi dengan rencana awal pinginnya mampir ke Phi Phi Island, walaupun nanti ternyata tidak jadi.

Kuala Lumpur - Krabi

Kuala Lumpur – Krabi

Rute 3 : Krabi – Bangkok

Dari Krabi ke Bangkok kami menggunakan bus, waktu itu kami bisa beli langsung tiketnya di hostel kami menginap dan harganya masih masuk akal. Oya, nama hostelnya Gafiyah Guesthouse, tempat penginapan yang bernuansa kekeluargaan. Dari hostel kami dijemput mobil putih menuju pool bus yang akan mengantar kami ke bangkok.

Krabi - Bangkok

Krabi – Bangkok

Rute 4 : Bangkok – Aranyaprathet

Aranyaprathet adalah salah satu kota di Thailand yang berbatasan dengan negara Kamboja dan menjadi pintu imigrasi. Dari Bangkok ke Arantaprathet menggunakan kereta penumpang, kelas ekonominya kalau di-rupiah-kan sekitar 36.000. Berangkat jam 6 pagi dan sampai pukul 11.00-an, dari stasiun menuju border bisa menggunakan tuk-tuk, tapi hati-hati kebanyakan tuk-tuk itu mengantar kita ke kantor imigrasi bayangan, kantor aslinya kami perlu jalan kaki lagi yang tidak terlalu jauh dari situ. Kantor bayangan ini baru beraksi untuk pemohon visa on arrival kalau untuk yang free visa seperti kami, mereka tidak melayani (gak ada untungnya).

Bangkok - Aranyaprathet

Bangkok – Aranyaprathet

Rute 5 : Aranyaprathet – Poipet – Seam Reap

Setelah melewati border Thailand – Kamboja, saatnya ke Seam Reap. Pintu gerbang Kamboja yang bersebelahan dengan Aranyaprathet adalah Kota Poipet. Gak perlu khawatir dari border disediakan bus gratis ke terminal, walaupun sebenernya ini bus salah satu strategi bisnis juga untuk menarik wisatawan menggunakan bus. Dibawalah kami ke terminal dan membeli tiket bus ke Seam Reap. Welcome Combodia…

Aranyaprathet - Poipet - Seam Reap

Aranyaprathet – Poipet – Seam Reap

Rute 6 : Seam Reap – Phnom Penh

Saatnya kita menuju ibukota Kamboja di Phnom Penh. Dengan menggunakan bus yang sudah kami beli di agen-agen bus yang banyak tersebar di jalan-jalan dekat penginapan. Kami tinggal di Garden Village Guesthouse, penginapan murah buat para backpacker.

Seam Ream - Phnom Penh

Seam Ream – Phnom Penh

Rute 7 : Phnom Penh – Ho Chi Minh

Setelah puas beberapa hari mengelilingi Kota Phnom Penh, saatnya kami melanjutkan perjalanan ke Vietnam dengan tujuan Kota Ho Chi Minh. Pergi kesana bisa menggunakan bus yang tiketnya bisa kami beli di penginapan. Kami menginap di Pich Guesthouse, penginapan murah di pusat kota yang ada air panasnya :). Oya… bus ini menunggu di border saat semua penumpang mengurus imigrasi dan baru berangkat kalau sudah dipastikan semua penumpangnya masuk, jadi tak perlu khawatir ketinggalan.

Phnom Penh - Ho Chi Minh

Phnom Penh – Ho Chi Minh

Rute 8 : Ho Chi Minh – Mui Ne – Ho Chi Minh

Kota Mui Ne terkenal dengan gurun pasir putihnya yang cukup luas, kami putuskan untuk menginap semalam disana. Disekitar penginapan banyak agen yang menawarkan tiket bus menuju kesana tinggal pilih saja mana yang paling cocok. Kami tinggal di penginapan Ms. Thu, ini penginapan yang paling murah yang kami temukan setelah turun dari bus dari Phnom Penh. Walaupun sebenarnya ini penginapan paling mahal sepanjang perjalanan kami mengelilingi 4 negara ini. Harga untuk dormitory yang 1 ruangannya bisa diisi 6 orang seharga 6USD / orang (wah… paling mahalnya 6USD? berarti selama perjalanan ini, penginapannya dibawah 6USD dong?? jawabannya : Iya! hehe). Bus yang dipakai versi tempat tidur, jadi kami bisa berbaring sepanjang perjalanan.

Ho Chi Minh - Mui Ne - Ho Chi Minh

Ho Chi Minh – Mui Ne – Ho Chi Minh

Rute 9 : HCMC – CGK (Finish)

Sudah terlalu lama meninggalkan tanah air, mari kita pulang ke Indonesia. Dengan menggunakan pesawat AirAsia kami diterbangkan dari Ho Chi Minh City ke Kota Tanggerang :p.

HCMC - CGK

HCMC – CGK

Tamat…

“Menjelajahlah… nisacaya kamu akan menemukan betapa kecilnya dirimu” – Seiful Huda

Saya bukanlah orang kaya yang bisa terbang

Akhir-akhir ini ada wacana dari Kementerian Perhubungan untuk menghapus kebiajakan maskapai yang memberikan LCC (Low Cost Carrier). Sederhananya kedepannya bakal tidak ada lagi tiket pesawat murah. Dalam wacana ini Kementerian Perhubungan akan menerapkan harga tiket termurah adalah 40% dari harga tiket termahal pada masing-masing jalur penerbangan. Jadi nantinya kalau harga tiket Bandung – Singapura pakai AirAsia termahalnya di 1 juta, tiket termurahnya jadi Rp. 400 ribu.

Mungkin kebijakan tersebut sah-sah saja untuk ditetapkan oleh sang punya regulasi penerbangan yaitu Kementerian Perhubungan. Akan tetapi, awal penyebab dan alasan yang mendasarinya adalah peristiwa jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 SUB-SIN yang terjadi pada tanggal 28 Desember 2014. Jadilah pesawat AirAsia yang notabene adalah maskapai LCC dihubung-hubungkan bermasalah dengan tingkat keselamatan. Kesimpulan “ngawur” dari pihak Kementerian Perhubungan secara sederhananya menjadi tiket murah = tingkat keselamatan rendah.

Padahal faktanya adalah :

1. Penyebab jatuhnya pesawat QZ8501 belum diketahui pada saat ini, apakah  dari faktor rendahnya safety atau faktor alam atau mungkin ada faktor lain.

2. Pihak AirAsia sudah memberikan klarifikasi bahwa tiket murah yang ditawarkan bukan berasal dari penurunan standar safety.

3. Didunia bisnis pernerbangan sah-sah saja mengadakan LCC dan promo-promo tiket, untuk menarik calon konsumen.

Saran saya, pihak Kementerian Perhubungan tidak perlu mencampuri masalah harga tiket, biarkan harga tiket mengikuti pasar. Cukuplah mereka membuat regulasi-regulasi berkenaan dengan standar safety dan perbaikan-perbaikan menejemen penerbangan yang selama ini saya rasa masih banyak yang kacau, banyak dari maskapai-maskapai asal Indonesia yang tidak diperbolehkan terbang di negara-negara Eropa yang salah satu penyebabnya karena ketidakpastian regulasi penerbangan di Indonesia.

Sebagai konsumen tetap maskapai LCC dan seorang backpacker yang pas-pasan, saya sangat terbantu dengan adanya tiket-tiket murah atau promo, karena itulah saya bisa terbang kemana-mana baik perjalanan domestik maupun internasional. Pengalaman selama ini banyak tiket-tiket murah yang saya dapatkan sepanjang 2010-2014 antara lain yaitu :  Jakarta – Makassar Rp. 90.000 PP, Bandung – Kuala Lumpur Rp. 127.000, Bandung – Singapura Rp. 66.000,  Jakarta – Pekanbaru Rp. 55.000, Padang – Bandung Rp. 55.000 dan Jakarta – Tanjung Pandan Rp. 110.000 PP. Mungkin nantinya kalau kebijakan pembatasan harga minimal tiket pesawat ini diberlalukan, pengalaman diatas tidak akan pernah saya alami lagi dimasa mendatang, karena saya bukanlah orang kaya yang bisa terbang.